NUSAREPORT-Jakarta, Taruna Merah Putih (TMP) mulai mematangkan langkah untuk memperkuat keterlibatan generasi muda dalam politik menjelang Pemilu 2029. Setelah jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) TMP periode 2025–2030 resmi dilantik oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, organisasi sayap kepemudaan partai tersebut diarahkan membangun kedekatan dengan generasi muda sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi mereka untuk belajar dan terlibat dalam kehidupan politik.
Megawati meminta TMP membangun bonding dengan anak muda dan menjadikan organisasi tersebut sebagai ruang terbuka bagi generasi muda untuk mengenal politik sekaligus bekerja nyata di tengah masyarakat.
Ketua Umum DPP TMP Diah Pikatan Or. P. Haprani mengatakan pendekatan kepada generasi muda menjadi salah satu agenda penting TMP. Menurut dia, posisi generasi milenial dan Gen Z semakin strategis karena akan menjadi bagian besar dari pemilih pada Pemilu 2029.
“Anak muda sekarang sudah jadi wajahnya Indonesia. Di 2029 nanti, lebih dari separuh pemilih itu anak muda. Karena itu, semangat kerja kita ke depan cuma satu: Politik Menjadi Asik,” kata Diah, yang akrab disapa Pinka, dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Ia mengatakan TMP ingin menghadirkan pendekatan politik yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Politik, menurut dia, tidak semestinya dipersepsikan sebagai ruang yang kaku, penuh konflik, atau jauh dari persoalan sehari-hari generasi muda.
Untuk itu, TMP menyiapkan dua pendekatan, yakni “Pintu Masuk” dan “Pendalaman”. Pintu Masuk diarahkan menjadi ruang awal bagi anak muda untuk mengenal politik dan PDI Perjuangan dalam suasana yang lebih terbuka dan nyaman. Setelah itu, proses Pendalaman ditujukan untuk membentuk kader muda yang memiliki kapasitas sekaligus jiwa kepeloporan.
“Masih banyak anak muda mikir politik itu kotor dan nyeremin. Nah, ini yang mau kita ubah bareng-bareng,” ujar Pinka.
Strategi tersebut tidak hanya akan dilakukan melalui kegiatan internal organisasi. TMP juga menyatakan akan memperluas aktivitas di tengah masyarakat dengan mendengar langsung persoalan yang dihadapi generasi muda.
Pinka menegaskan kader TMP harus hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam lingkungan anak muda, bukan sekadar melakukan pendekatan menjelang momentum politik.
“Kader-kader muda harus turun langsung ke tengah rakyat, khususnya di antara generasi muda untuk mendengar aspirasi mereka serta membantu menyelesaikan persoalan mereka,” katanya.
Langkah tersebut menjadi penting karena besarnya jumlah pemilih muda sekaligus membawa tantangan tersendiri. Kelompok usia muda bukan hanya menjadi kelompok pemilih yang besar, tetapi juga merupakan generasi yang sangat aktif memperoleh dan membentuk informasi politik melalui ruang digital.
Data Pemilu 2024 menunjukkan pemilih berusia 17–30 tahun mencapai 31,23 persen dari DPT, sementara kelompok usia 31–40 tahun mencapai 20,70 persen. Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, proporsinya mencapai 51,93 persen dari pemilih.
Kondisi itu membuat perebutan perhatian dan kepercayaan pemilih muda diperkirakan menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika politik menuju 2029. Bagi TMP, tantangannya bukan sekadar memperbesar jumlah kader muda, tetapi menciptakan ruang politik yang mampu menjawab persoalan dan kebutuhan generasi tersebut.
TMP sendiri merupakan organisasi sayap kepemudaan PDI Perjuangan yang diarahkan menjadi salah satu ruang kaderisasi bagi generasi muda. Dengan kepengurusan baru periode 2025–2030, organisasi tersebut kini menghadapi tuntutan untuk menerjemahkan agenda pendekatan kepada anak muda dalam bentuk kegiatan yang konkret, terbuka, dan memiliki dampak di tengah masyarakat.







