Masuk Masa Karantina, 68 Capaska Bungo Ditempa Jadi Generasi Berkarakter..

Pendidikan107 Views

NUSAREPORT- Muara Bungo,  Sebanyak 68 Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kabupaten Bungo Tahun 2026 resmi memasuki masa karantina dan pemusatan latihan, Senin (10/8/2026). Mereka akan menjalani pembinaan secara intensif hingga dijemput dan dikembalikan kepada keluarga pada 19 Agustus 2026.

Ke-68 Capaska tersebut terdiri dari 36 putra dan 32 putri. Selama berada dalam masa karantina, mereka akan mengikuti rangkaian latihan, pembinaan kedisiplinan, penguatan mental, serta pembentukan karakter sebagai persiapan menjalankan tugas pada momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebelum memasuki masa karantina, para Capaska menerima pengarahan dari Sekretaris BPBD Kesbangpol Kabupaten Bungo, Marwilisman AR, SSTP, ME, selaku pembina.

Dalam arahannya, Marwilisman menegaskan bahwa menjadi Paskibraka bukan sekadar persoalan kemampuan baris-berbaris dan kesiapan fisik. Lebih dari itu, para Capaska sedang menjalani proses pembentukan mental, disiplin, tanggung jawab, integritas, kekompakan, serta karakter sebagai generasi muda Pancasila.

“Mulai hari ini, kalian bukan lagi sekadar siswa yang mengikuti kegiatan sekolah. Kalian sedang dipersiapkan untuk menjalankan sebuah kehormatan atas nama daerah, masyarakat Kabupaten Bungo, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Marwilisman.

Ia mengatakan, masa karantina sejak 10 Agustus hingga 19 Agustus 2026 merupakan bagian penting dalam proses menempa para Capaska agar memiliki kesiapan secara fisik maupun mental.

Marwilisman meminta para peserta tidak menganggap aturan, kedisiplinan, maupun teguran dari pelatih sebagai sesuatu yang membebani.

“Teguran bukan untuk menjatuhkan kalian. Disiplin bukan untuk menyusahkan kalian. Latihan bukan untuk menyiksa kalian. Semua itu adalah bagian dari proses untuk membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat,” tegasnya.

68 Capaska Harus Menjadi Satu Kesatuan

Marwilisman juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan selama menjalani karantina. Ia meminta seluruh Capaska menghilangkan ego pribadi dan tidak merasa paling hebat di antara sesama peserta.

Menurutnya, keberhasilan Paskibraka tidak ditentukan oleh satu atau dua orang, tetapi oleh kemampuan seluruh anggota untuk bergerak sebagai satu kesatuan.

“Paskibraka bukan tentang siapa yang paling menonjol. Paskibraka adalah tentang bagaimana kalian mampu berdiri sebagai satu kesatuan,” katanya.

Ia mengajak para Capaska untuk saling menguatkan ketika menghadapi rasa lelah maupun kesulitan selama proses latihan.

“Ketika kalian berada di lapangan, tidak ada lagi istilah saya dan kamu. Yang ada adalah kita. Kita Paskibraka, kita Kabupaten Bungo, kita Indonesia,” ujarnya.

 

Sembilan Hari Menempa Diri

Masa karantina selama 10–19 Agustus diharapkan menjadi momentum bagi para Capaska untuk belajar hidup disiplin, bertanggung jawab, menghargai waktu, menjaga kekompakan, dan mampu mengendalikan diri.

Marwilisman mengingatkan bahwa selama masa tersebut, para peserta akan berada dalam lingkungan pembinaan yang berbeda dari kehidupan mereka sehari-hari.

Karena itu, ia meminta para Capaska memanfaatkan setiap proses yang diberikan oleh pelatih dan pembina.

“Jangan takut pada latihan. Jangan takut pada teguran. Jangan takut pada rasa lelah. Karena suatu hari nanti, ketika kalian berdiri tegak di hadapan Sang Merah Putih, kalian akan memahami bahwa semua lelah itu ternyata memiliki arti,” tuturnya.

 

Bukan Sekadar Mengibarkan Bendera

Lebih lanjut, Marwilisman mengingatkan bahwa tugas Paskibraka memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar melaksanakan pengibaran dan penurunan bendera.

Ketika nantinya berdiri tegak di hadapan Sang Merah Putih, para Capaska diharapkan memahami bahwa bendera tersebut merupakan simbol perjuangan, pengorbanan para pahlawan, persatuan, dan kehormatan bangsa.

“Jangan hanya berpikir tentang gerakan kaki, tangan, atau langkah yang harus tepat. Pikirkan bahwa di tangan kalian ada kehormatan Merah Putih,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai Paskibraka tidak boleh berhenti setelah pelaksanaan upacara 17 Agustus.

“Paskibraka bukan selesai ketika bendera diturunkan pada 17 Agustus. Bukan selesai ketika masa karantina berakhir. Paskibraka adalah nilai yang harus kalian bawa dalam kehidupan,” tegas Marwilisman.

Ia berharap pengalaman selama masa karantina dapat menjadi bekal bagi 36 putra dan 32 putri tersebut untuk tumbuh menjadi generasi muda Kabupaten Bungo yang disiplin, bertanggung jawab, berintegritas, memiliki jiwa kepemimpinan dan berkarakter Pancasila.

Pada 19 Agustus 2026, setelah seluruh rangkaian pembinaan selesai, ke-68 Capaska akan dijemput dan dikembalikan kepada keluarga.

“Di mana pun kalian berada nanti, tetaplah menjadi manusia yang berkarakter Pancasila. Jadikan pengalaman ini sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kalian kemarin,” pesan Marwilisman.

Menutup arahannya, ia memberikan semangat kepada seluruh Capaska Kabupaten Bungo Tahun 2026:“Merah Putih di dada, Pancasila di jiwa, Indonesia di hati.”

Dengan dimulainya masa karantina pada 10 Agustus 2026, sebanyak 68 Capaska Kabupaten Bungo—terdiri dari 36 putra dan 32 putri—memasuki fase penting pembentukan diri, sebelum akhirnya menyelesaikan masa pembinaan dan kembali kepada keluarga pada 19 Agustus mendatang.( Lojer )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *