
Oleh: Ida Suryani – Pengawas Sekolah dan Korwil IX
“Supervisi bukanlah panggung untuk pamer kehebatan, melainkan bengkel kerja untuk merajut makna dan menumbuhkan keberanian belajar.”
Pendahuluan: Menyulut Api, Bukan Memamerkan Cahaya
Setiap sekolah adalah tempat tumbuhnya peradaban kecil. Di ruang-ruang kelas itulah, guru dengan segala kerendahan hati menanamkan ilmu dan nilai. Namun, proses pendidikan yang hidup ini sering kali berhadapan dengan paradoks: sistem pendampingan yang seharusnya memanusiakan, justru berubah menjadi pengadilan yang menakutkan.
Salah satu tantangan tersembunyi dalam dunia kepengawasan adalah “kesombongan akademik” sebuah sikap ketika pengawas memposisikan diri sebagai pemilik kebenaran ilmu, yang tugasnya hanya menilai, mengoreksi, dan menunjukkan superioritas pengetahuan. Ketika ini terjadi, ruang supervisi kehilangan ruhnya sebagai tempat belajar bersama. Pengawas yang seharusnya memandu, justru menjadi hakim yang menebar ketakutan.
Di sinilah kita perlu merenungkan kembali fungsi kepengawasan dengan kacamata Taksonomi Bloom, bukan sekadar sebagai alat menilai guru, tetapi sebagai cermin reflektif bagi pengawas itu sendiri: sudahkah kita melampaui kesombongan akademik menuju kerendahan hati seorang pembelajar?
Tiga Ranah Pembelajaran: Sebuah Cermin bagi Pengawas
Taksonomi Bloom mengajarkan tiga ranah pembelajaran: Kognitif (pengetahuan), Afektif (sikap), dan Psikomotorik (tindakan).
Seorang pengawas yang terjebak dalam kesombongan akademik biasanya hanya beroperasi di ranah kognitif level rendah mengingat (C1) teori dan mengevaluasi (C5) guru berdasarkan patokan itu secara kaku.
Padahal, pengawas sejati adalah sosok yang menguasai ketiga ranah ini secara utuh:
- Kognitif Tinggi: Tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menganalisis (C4) konteks sekolah dan mencipta (C6) solusi kontekstual.
- Afektif: Memiliki empati, respek, dan komitmen untuk membangun, bukan meruntuhkan harga diri.
- Psikomotorik: Terampil mempraktikkan supervisi klinis dengan mendengarkan aktif dan memberikan umpan balik yang membangun.
Kesombongan akademik mengingkari ranah afektif. Ia menjadikan pengawas sekadar “mesin pengetahuan” tanpa kehangatan kemanusiaan.
Transformasi Pengawas: Dari Otoritatif Menuju Kolaboratif
Dalam perjalanan profesi, pengawas pendidikan kerap dihadapkan pada dua pilihan sikap: menjadi figur otoritatif yang menilai dari ketinggian, atau menjadi mitra pembelajar yang berjalan bersama guru.
Paradigma lama menempatkan pengawas sebagai “penentu kebenaran” yang tugasnya menilai dan memperbaiki. Paradigma baru mengajak kita bergeserdari pendekatan yang berpusat pada kekuasaan menuju pendekatan yang berorientasi pada kemitraan dan pertumbuhan.
Melalui refleksi Taksonomi Bloom, transformasi ini menuntun pengawas untuk tidak berhenti pada tahap mengingat dan mengevaluasi, melainkan naik ke tingkat menganalisis dan mencipta.Artinya, pengawas tidak lagi menjadi pengontrol, tetapi menjadi fasilitator yang menyalakan semangat belajar bersama.
Pengawas yang kolaboratif bukan hanya memahami teori, tetapi juga menghayati nilai-nilai empati dan menghormati perjuangan guru di lapangan. Ia hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mendampingi; bukan untuk menunjukkan kelebihan, tetapi untuk menumbuhkan potensi.
Dalam ruang supervisi yang demikian, guru tidak merasa diperiksa, melainkan diajak tumbuh bersama dalam suasana saling percaya.
“Dari pengawasan yang otoritatif menuju pengawasan yang kolaboratif di situlah pendidikan menemukan kembali jiwanya.”
Supervisi yang Mendidik: Menjauhkan Bayang-bayang Kesombongan
Dalam semangat Merdeka Belajar, pengawasan harus menjadi ruang aman. Kesombongan akademik adalah musuh utama dari kemerdekaan ini. Ia menciptakan ketakutan, yang pada akhirnya membunuh kreativitas dan kejujuran.
Fungsi pengawas sesuai Permendikbud No. 143 Tahun 2014 adalah membina. Membina mustahil dilakukan dengan kesombongan. Membina memerlukan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita semua, termasuk pengawas, adalah pembelajar sepanjang hayat.
“Guru terbaik bukan yang tak pernah salah, tetapi yang berani memperbaiki diri. Pengawas terbaik bukanlah yang paling tahu, tetapi yang paling mampu membangkitkan keinginan tahu.
Kepala Sekolah sebagai Mitra Pengawas
Kepala sekolah adalah mitra strategis pengawas dalam mencegah budaya kesombongan akademik. Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah dapat menciptakan budaya “keterbukaan untuk dikritik” di sekolahnya.
Dalam rapat dan supervisi, kepala sekolah dapat memfasilitasi diskusi setara, di mana guru, kepala sekolah, dan pengawas saling belajar tanpa rasa takut dihakimi.
Penutup: Dari Kesombongan Menuju Kerendahan Hati yang Produktif
Menjadi pengawas berarti menjaga nyala api pendidikan. Api tidak bisa menyala dalam suasana yang ditekan oleh ego dan kesombongan. Api hanya bisa berkobar dalam ruang yang dipupuk oleh udara kerendahan hati, kepercayaan, dan kolaborasi.
Taksonomi Bloom mengajarkan bahwa puncak dari segala proses belajar adalah mencipta. Pengawas yang sombong akan sulit menciptakan apa pun selain ketakutan. Sebaliknya, pengawas yang rendah hati yang mau duduk bersama, mendengarkan, dan belajar dari guru akan melahirkan warisan abadi: sekolah sebagai komunitas pembelajar yang penuh kehidupan.
“Setiap anak belajar dari guru yang menginspirasi. Dan setiap guru akan terus menginspirasi bila ia dihargai, bukan dihakimi; dibimbing, bukan dipermalukan.”
Maka, marilah kita jadikan fungsi kepengawasan sebagai taman tumbuh bersama.
Mari kita tinggalkan kesombongan akademik, dan beralih kepada semangat pelayanan yang tulus demi sekolah yang merdeka, bermutu, dan berkarakter.