
NUSAREPORT- Muara Bungo,- Jumat, 12 Desember 2025,- Penelitian tentang ketahanan masyarakat penjaga Hutan Adat Datuk Sinaro Putih kembali menjadi perhatian publik setelah tim FISIP Universitas Muara Bungo dipimpin Ridwan, S.IP., M.Soc.Sc melanjutkan riset tahunan mereka di Dusun Batu Kerbau dan Dusun Baru. Didanai Kemendikbudristek, penelitian ini menjadi contoh nyata bagaimana Tri Darma Perguruan Tinggi dijalankan secara utuh: pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat adat dalam menjaga lingkungan di tengah perubahan iklim.
Hutan adat yang menjadi benteng ekologis warga telah lama melindungi dusun-dusun tersebut dari banjir, longsor, hingga kekeringan. Namun perubahan iklim memaksa pendekatan yang lebih sistematis dan ilmiah agar tutupan hutan tetap terjaga. Ridwan menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan memperkuat peran masyarakat sebagai penjaga ekologis terdepan. “Ketahanan sosial masyarakat lokal adalah benteng paling kuat untuk menyelamatkan hutan,” ujarnya.
Penelitian ini juga memperoleh dukungan langsung dari tokoh lokal, Hamdan putra asli Dusun Baru yang kini menjabat Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bungo. Kehadirannya memberikan bobot penting, karena ia tidak hanya memahami nilai-nilai lokal secara kultural, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam mendorong kebijakan perlindungan hutan adat. Pendampingan Hamdan di lapangan membuat dialog antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat berjalan lebih terbuka serta memperkuat legitimasi program pelestarian hutan.
Setiap tahun, tim peneliti menelaah bagaimana nilai adat, kelembagaan lokal, dan praktik penjagaan hutan diwariskan lintas generasi. Mereka menemukan bahwa kekuatan aturan adat dan partisipasi warga mampu meningkatkan ketahanan komunitas menghadapi perubahan iklim, sementara tekanan ekonomi atau masuknya aktivitas ekstraktif tanpa kontrol dapat menjadi ancaman. Karena itu, riset yang berkelanjutan menjadi sangat penting untuk memahami dinamika lapangan yang terus berubah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga belajar langsung di lapangan ,memahami bagaimana teori perubahan sosial, kebijakan publik, dan ketahanan iklim terhubung dengan realitas hidup masyarakat. Aktivitas mereka bukan hanya riset, tetapi juga bagian dari pengabdian: mendampingi warga merancang strategi adaptasi iklim berbasis adat, sekaligus memperkuat kapasitas komunitas sebagai penjaga hutan.
Hutan Adat Datuk Sinaro Putih memiliki peran ekologis vital: menjaga siklus air, menahan suhu lokal, menjadi rumah keanekaragaman hayati, serta mempertahankan identitas budaya. Rekomendasi riset ini mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat perlindungan hukum, skema ekonomi berkelanjutan, dan kolaborasi multi pihak.
Ridwan berharap riset berkelanjutan ini menjadi model bagaimana perguruan tinggi menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan, membentuk generasi muda yang peka terhadap lingkungan, serta memperkuat masyarakat adat yang selama ini menjaga hutan tanpa pamrih. “Masyarakat sudah melakukan tugas paling berat. Tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian,” tutupnya, (Redaksi)