Ilustrasi Gambar “ANTARA”,Batavia-C, 15 Juli 1941 dari Pimpinan Pers-en Documentatiebureau “Sebagai redaktur pertama adalah toean Abdoel Hakim”.

NUSAREPORT-Jakarta,- Hari ini, 13 Desember, Kantor Berita ANTARA memperingati hari lahirnya sebagai lembaga berita nasional yang telah menjadi penopang utama arus informasi Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan. Di balik sejarah panjang itu, tersimpan nama yang kini jarang disebut, namun memegang peran kunci pada masa awal berdirinya ANTARA: Abdul Hakim, redaktur pertamanya.

Catatan sejarah pers Indonesia menunjukkan bahwa Abdul Hakim berada di posisi strategis saat ANTARA lahir. Dalam Sejarah Pers Indonesia karya H. Soebagijo IN yang diterbitkan Dewan Pers pada 1977, disebutkan bahwa redaktur pertama ANTARA adalah “toean Abdoel Hakim”, didampingi sejumlah tokoh pergerakan nasional yang memiliki jejaring luas di berbagai daerah Nusantara.

Kutipan resmi bertanggal Batavia, 15 Juli 1941 itu menegaskan bahwa sejak awal, ANTARA tidak dibangun sebagai lembaga netral semata, melainkan sebagai pusat informasi yang dihidupi oleh semangat kebangsaan. Struktur awal ANTARA diisi oleh figur-figur pergerakan yang sadar betul bahwa informasi adalah senjata penting melawan kolonialisme.

Abdul Hakim dipercaya menjadi redaktur pertama karena pengalamannya sebagai reporter harian Keng Po, salah satu surat kabar berpengaruh pada masa kolonial. Pada era itu, redaktur bukan sekadar penyunting naskah, melainkan penjaga gerbang informasi sekaligus penentu arah politik pemberitaan. Dari tangan Abdul Hakim, ANTARA sejak kelahirannya diarahkan untuk menyuarakan aspirasi bangsa yang sedang tumbuh.

ANTARA pertama kali beroperasi di rumah Soemanang di Jalan Raden Saleh Kecil No. 2, Jakarta. Dari rumah sederhana itulah, buletin ANTARA terbit perdana pada 13 Desember 1937. Tanggal tersebut kemudian dikenang sebagai hari lahir kantor berita yang kelak menjadi tulang punggung komunikasi Republik Indonesia, terutama pada masa-masa genting menjelang dan setelah proklamasi kemerdekaan.

Sejarah juga mencatat bahwa aktivitas ANTARA membuat pemerintah kolonial resah. Para pemimpinnya, termasuk Abdul Hakim, kerap mengalami penangkapan dan pengasingan. Mereka dipindah-pindahkan ke berbagai daerah, dari Garut hingga Nusa Kambangan. Namun represi itu tidak mematikan semangat. Bahkan dari balik penjara, para wartawan pergerakan ini bertekad bahwa ANTARA harus tetap hidup.

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, ANTARA resmi ditutup dan aktivitasnya dialihkan ke kantor berita Jepang. Meski demikian, para wartawan ANTARA beradaptasi dengan situasi baru, memanfaatkan ruang sempit yang ada untuk tetap menjaga denyut informasi nasional. Perlawanan tidak berhenti, hanya berganti bentuk.

Sisi lain Abdul Hakim terekam dalam buku memorial keluarga Abdul Hakim, Wartawan Antara dalam Kenangan Anak Cucu. Foto sampulnya menampilkan sosok sederhana, mengendarai skuter di jalanan Jakarta tempo dulu. Gambaran ini menghadirkan Abdul Hakim bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan manusia biasa yang menjalani keseharian sambil memikul tanggung jawab besar sebagai pejuang informasi.

Peringatan hari lahir ANTARA hari ini menjadi momentum untuk menengok kembali akar sejarah pers nasional. Kisah Abdul Hakim dan para pendiri ANTARA menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan dengan senjata, tetapi juga dengan berita, kata-kata, dan keberanian menjaga kebenaran. Dari rumah kecil di Raden Saleh hingga menjadi kantor berita nasional, ANTARA lahir dari keyakinan bahwa informasi adalah fondasi kemerdekaan.(Redaksi-Sumber,diolah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *