
Lia Winarso (tanda panah) bersama rekan sejawat SDN 2 Penganjuran Banyuwangi, seorang Guru Honorer pemberani yang singgung tambang emas Tumpang Pitu (Instagram @layla.2r)
NUSAREPORT – Bungo, 22 Desember 2025, – Nama Lia Winarso mendadak menjadi perbincangan publik. Guru honorer asal Banyuwangi, Jawa Timur, ini dikenal luas setelah keberaniannya menyuarakan kegelisahan tentang dampak lingkungan tambang emas Tumpang Pitu, yang juga dikenal sebagai Tambang Emas Tujuh Bukit.
Di tengah keterbatasan status dan posisi, Lia memilih tidak diam. Ia menyampaikan kritiknya secara terbuka melalui kolom komentar akun Instagram Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Bagi banyak pendidik dan warga, langkah itu bukan sekadar komentar, melainkan simbol keberanian warga biasa dalam menjaga nurani dan lingkungan hidup.
Tambang emas yang berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, tersebut selama ini kerap disorot karena diduga menimbulkan dampak lingkungan serius. Suara Lia menjadi gema dari kegelisahan yang dirasakan sebagian masyarakat, namun jarang diucapkan secara terbuka.
Keberanian itu sempat berujung pada pemanggilan Lia oleh kepala sekolah tempatnya mengajar untuk dimintai keterangan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Langkah tersebut langsung memicu reaksi publik. Banyak pihak menilai pemanggilan itu berlebihan dan berpotensi membungkam kebebasan berpendapat, terutama bagi guru yang menyampaikan kritik secara personal dan damai.
Merespons sorotan publik, pihak sekolah akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf. Lia ditegaskan tidak mengalami intimidasi dan tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dinas Pendidikan setempat juga dikabarkan memberikan teguran kepada kepala sekolah karena dinilai kurang proporsional dalam menyikapi persoalan tersebut.
Di tengah riuh dukungan dan perbincangan, Lia Winarso justru menyampaikan pesan yang menenangkan sekaligus menguatkan. Melalui akun Instagram pribadinya, @layla.2r, ia mengajak publik untuk tidak hidup dalam ketakutan saat membela kebenaran.
“Hidup kok isinya takut, takut, takut. Emangnya Tuhan mendidik kita menjadi umat yang penakut,” tulis Lia, dikutip Minggu, 21 Desember 2025.
Ia juga mengingatkan sejarah perjuangan bangsa, bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian rakyat biasa yang melawan penindasan dengan segala keterbatasan. Bagi Lia, nilai keberanian dan kejujuran bukan sekadar teori dalam pelajaran PPKn, melainkan laku hidup yang harus dijalani.
Hingga kini, Lia Winarso tetap aktif mengajar di SDN 2 Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Di ruang kelas sederhana itulah ia tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan teladan tentang keberanian, integritas, dan tanggung jawab moral sebagai warga negara.
Kisah Lia menjadi pengingat bahwa perubahan sering kali dimulai dari suara kecil yang jujur. Dari seorang guru honorer, publik belajar bahwa keberanian bukan soal jabatan, melainkan tentang kesetiaan pada hati nurani. (Redaksi)