
NUSA REPORT – Jambi,- 1/1/2026, Kamis,- Indonesia mencatatkan sejumlah dinamika penting yang menegaskan arah kepemimpinan nasional, ketahanan ekonomi, serta kesadaran kolektif untuk terus berbenah. Di tengah tekanan global, bencana alam di berbagai daerah, dan tantangan transisi pemerintahan, negara dinilai tetap berupaya hadir dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Kinerja Presiden Prabowo Subianto sepanjang 2025 mendapat apresiasi dari parlemen. Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai kepemimpinan Presiden Prabowo menunjukkan ketegasan, responsivitas, dan keberpihakan yang jelas kepada kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan sosial dengan menjadikan rakyat sebagai jangkar utama dalam setiap kebijakan strategis negara.
Arah tersebut tercermin dalam APBN 2025 yang memberi porsi signifikan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial sebagai fondasi pembangunan manusia. Kebijakan fiskal yang berorientasi pada kesejahteraan dinilai menjadi bantalan penting di tengah tekanan ekonomi global, sekaligus menjaga daya beli dan melindungi kelompok rentan.
“Presiden Prabowo menunjukkan komitmen kuat bahwa negara tidak boleh absen dari urusan rakyat. Sepanjang 2025, arah kebijakan pemerintah jelas untuk menjaga stabilitas nasional dan melindungi masyarakat,” ujar Amin, Kamis (1/1/2026).
Ia juga menyoroti keberanian Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan strategis, khususnya dalam pengelolaan anggaran negara, sebagai faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik di masa transisi pemerintahan. Di saat yang sama, keseriusan pemerintah dalam merespons berbagai bencana di sejumlah daerah dinilai menunjukkan kehadiran negara yang lebih cepat, sigap, dan terkoordinasi melalui dukungan anggaran dan kelembagaan, termasuk peran BNPB.
Di bidang ekonomi, sektor industri manufaktur turut menjadi penopang optimisme di penghujung tahun. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Desember 2025 tercatat di level 51,90. Meski melambat dibanding bulan sebelumnya, angka tersebut menegaskan industri manufaktur nasional masih berada di jalur ekspansi.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyebut perlambatan tersebut sebagai fenomena musiman yang lazim terjadi di akhir tahun. Fondasi industri dinilai tetap kuat, tercermin dari 17 dari 23 subsektor industri pengolahan yang masih berada dalam fase ekspansi dan menyumbang hampir 80 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Di sisi lain, enam subsektor masih menghadapi tekanan dan masuk zona kontraksi, termasuk industri kayu, karet dan plastik, logam dasar, hingga alat angkutan. Pemerintah, kata Febri, telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ekspansi industri melalui penguatan pasar domestik, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perlindungan dari praktik perdagangan tidak sehat, serta jaminan ketersediaan energi dan bahan baku yang kompetitif.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga. Survei menunjukkan keyakinan industri untuk enam bulan ke depan mencapai 71,8 persen, sementara tingkat pesimisme turun tajam. Angka ini menjadi sinyal bahwa tekanan di akhir 2025 dipandang sebagai tantangan sementara, dengan prospek pemulihan dan penguatan yang terbuka lebar pada 2026.
Di tengah capaian dan tantangan tersebut, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengingatkan pentingnya menjadikan setiap waktu sebagai momentum muhasabah. Menurutnya, refleksi tidak harus menunggu akhir tahun, karena manusia tidak pernah tahu kapan akhir kehidupan datang. Bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa kebijakan, dakwah, dan politik harus senantiasa diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat.
Hidayat menilai Indonesia memiliki modal sosial yang kuat. Dalam konteks dakwah, kebebasan beribadah dan memakmurkan masjid dijamin oleh negara. Dalam konteks politik, demokrasi telah memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang dipercaya membawa solusi, sebagaimana dijamin oleh konstitusi. Menatap 2026, rangkaian peristiwa sepanjang 2025 menjadi bekal penting bagi bangsa ini untuk melangkah lebih matang. Kepemimpinan yang dinilai berpihak pada rakyat, ketangguhan ekonomi yang tetap terjaga, serta kesadaran kolektif untuk terus bermuhasabah menjadi fondasi agar negara semakin dirasakan hadir, melindungi, dan memberi harapan. Di tengah perubahan dan ujian, optimisme tetap tumbuh bahwa Indonesia mampu melangkah maju dengan semangat kebersamaan dan keberanian mengambil keputusan. ( Redaksi, Sumber-diolah)