
NUSAREPORT-Jakarta, Selasa 13/1/2026,- Di saat ruang pendidikan nasional disibukkan oleh tumpukan regulasi, perubahan kurikulum, serta beban administratif yang kian menjauhkan guru dan siswa dari esensi pembelajaran, prestasi justru lahir dari ruang yang nyaris luput dari sorotan kebijakan. Tujuh siswa Indonesia membuktikan bahwa daya cipta dan kapasitas akademik pelajar Tanah Air tetap hidup, bahkan mampu bersaing di tingkat global.
Tujuh siswa Indonesia berhasil meraih medali emas dalam ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 yang berlangsung pada 5–9 Januari 2026 di Bangkok, Thailand. Penghargaan tersebut diberikan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) atas inovasi teknologi bernama SoilPIN.
Ironisnya, capaian ini muncul justru ketika perdebatan publik di dalam negeri lebih banyak berkutat pada arah kebijakan pendidikan dasar dan menengah mulai dari penyesuaian kurikulum, penilaian berbasis administrasi, hingga tuntutan akademik yang kerap tak sejalan dengan pengembangan kreativitas dan riset siswa.
Tim peraih emas ini terdiri dari Nazeer Omar Verico, Armand Muhammad Abdullah, Muhammad Argi Imrantama, Baraputra Nathan Ararya, Shah Jehan Abhiraj Kamal, Bryan Adrian Romeli, dan Kianu Adiara Anggun. Mereka berasal dari empat sekolah berbeda: Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ), Mentari Intercultural School Bintaro (MISB), British School Jakarta (BSJ), dan Jakarta Intercultural School (JIS).
Inovasi SoilPIN yang mereka kembangkan bukan sekadar proyek akademik. Alat ini merupakan probe tanah portabel berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu memantau kesehatan tanah secara real-time. SoilPIN mengukur parameter penting seperti kelembaban, pH, suhu, dan kandungan nutrisi, lalu mengirimkan data ke aplikasi ponsel yang dilengkapi analisis AI.
Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat memetakan kualitas tanah, memperoleh rekomendasi perbaikan lahan, serta memantau perubahan kondisi tanah dari waktu ke waktu. Pendekatan ini menjadikan SoilPIN bukan hanya alat ukur, tetapi sistem pendukung keputusan bagi petani dan peneliti.
“SoilPIN tidak hanya alat ukur, tetapi juga mitra pintar bagi petani. Dengan AI, kami ingin memberikan insight yang bisa langsung diterapkan untuk perbaikan tanah,” ujar perwakilan tim, dikutip Selasa (13/1).
Yang menarik, inovasi ini telah diuji coba di lahan pertanian di Bandung dan menunjukkan potensi nyata untuk mendukung produktivitas pertanian berkelanjutan, khususnya di wilayah yang selama ini minim akses teknologi pertanian presisi.
IPTEx sendiri merupakan ajang internasional yang mempertemukan inovator dari berbagai negara untuk memamerkan teknologi, riset, dan kekayaan intelektual. Prestasi siswa Indonesia di forum ini menjadi cermin kontras dengan situasi pendidikan nasional: inovasi lahir bukan karena sistem yang mapan, melainkan sering kali justru meski sistem belum sepenuhnya mendukung.
Capaian ini sekaligus menegaskan bahwa ketika siswa diberi ruang berpikir kritis, akses riset, dan kebebasan berinovasi, mereka mampu melahirkan solusi nyata bagi persoalan publik, dari isu pangan hingga keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kebijakan pendidikan yang kerap menempatkan angka, administrasi, dan kepatuhan regulatif sebagai prioritas, prestasi ini menjadi pengingat penting: substansi pendidikan seharusnya berpihak pada pengembangan nalar, inovasi, dan kebermanfaatan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”