
NUSAREPORT-24/1/2026,- Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan ekonomi Indonesia yang berorientasi pada peningkatan produktivitas nasional sebagai fondasi pertumbuhan jangka menengah dan panjang. Penegasan tersebut disampaikan dalam pidato Presiden pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos Congress Center, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menekankan perlunya kebijakan sosial yang tidak semata bersifat protektif, melainkan mampu mendorong aktivitas ekonomi produktif dan menciptakan nilai tambah.
“Presiden menegaskan bahwa kebijakan ekonomi pro rakyat harus dirancang untuk meningkatkan produktivitas, dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Jumat (23/1/2026).
Menurut Airlangga, Presiden juga menekankan prinsip bahwa peningkatan produktivitas merupakan prasyarat utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, desain kebijakan sosial dan ekonomi harus saling terintegrasi agar berdampak langsung pada kapasitas produksi nasional.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo turut menyoroti pentingnya stabilitas dan perdamaian sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi global. Ia menilai stabilitas bukan sekadar faktor pendukung, melainkan elemen fundamental bagi iklim investasi dan penciptaan lapangan kerja.
“Perdamaian dan stabilitas adalah aset paling berharga. Tanpa stabilitas, tidak ada pertumbuhan yang berkelanjutan,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku usaha internasional.
Presiden juga menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia meyakini pertumbuhan ekonomi nasional ke depan akan mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan capaian historis, dan berpotensi menarik perhatian global.
Optimisme tersebut ditopang oleh indikator makroekonomi yang relatif terjaga. Inflasi Indonesia berada di kisaran 2%, defisit APBN tetap di bawah ambang batas 3%, serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten di kisaran 5% dalam satu dekade terakhir. Prabowo menilai, pada tahun berjalan, pertumbuhan ekonomi berpeluang meningkat seiring penguatan permintaan domestik dan investasi.
Sejumlah lembaga internasional juga menilai ekonomi Indonesia relatif tangguh. International Monetary Fund (IMF) menempatkan Indonesia sebagai salah satu bright spot di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya fragmentasi ekonomi dunia.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 mencapai Rp10.133,1 triliun, tumbuh 9,6% secara tahunan (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan November 2025 sebesar 8,3%.
Pertumbuhan M2 didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,0% (yoy) serta uang kuasi sebesar 5,5% (yoy). Bank Indonesia menjelaskan, dinamika tersebut terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang mencapai 13,6% (yoy) serta penyaluran kredit yang tumbuh 9,3% (yoy), mencerminkan berlanjutnya ekspansi aktivitas ekonomi domestik.
Di sela-sela agenda WEF, pemerintah juga mengintensifkan diplomasi ekonomi untuk menarik investasi global, khususnya di sektor ekonomi digital. Airlangga Hartarto menggelar pertemuan dengan sejumlah pimpinan perusahaan teknologi Amerika Serikat, antara lain Nvidia, Amazon Web Service (AWS), Docusign, CrowdStrike, dan Cloudflare, yang berlangsung di Indonesia Pavilion Davos.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membahas peluang investasi di sektor pusat data, keamanan siber, dan penguatan infrastruktur digital. Pertemuan ini juga menjadi tindak lanjut dari pembahasan tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat, serta melibatkan perwakilan dunia usaha nasional, termasuk pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa Digital Park di Batam.
Selain itu, Airlangga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Investasi Yordania Tareq Abu Ghazaleh yang turut dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani serta Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir. Pertemuan tersebut membahas tindak lanjut Nota Kesepahaman antara Danantara Indonesia dan Jordan Investment Fund terkait peluang investasi strategis lintas sektor.
Kombinasi pesan kebijakan Presiden, kondisi makroekonomi yang relatif stabil, serta langkah proaktif pemerintah dalam menarik investasi global menunjukkan upaya Indonesia memperkuat fondasi pertumbuhan berbasis produktivitas. Strategi ini diharapkan mampu menjaga momentum ekonomi nasional di tengah dinamika global yang semakin menantang.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”