
NUSAREPORT-Bungo, Muara Bungo mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,04 persen pada Januari 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,30. Data ini sebagaimana tercermin dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Tanggal Rilis 2 Febuari 2026, menunjukkan bahwa tekanan harga di tingkat lokal masih relatif tinggi dibandingkan inflasi nasional yang umumnya berada di bawah kisaran tersebut.
Secara metodologis, inflasi y-on-y menggambarkan perubahan harga barang dan jasa dalam satu tahun terakhir. Dengan demikian, angka 5,04 persen mengindikasikan bahwa masyarakat Muara Bungo harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang sama dibandingkan Januari tahun sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran dalam BRS, inflasi Muara Bungo terutama didorong oleh kenaikan signifikan pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 13,94 persen. Kelompok ini memiliki bobot besar dalam struktur konsumsi rumah tangga, sehingga kenaikannya berdampak langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan 1,86 persen. Meski relatif lebih rendah dibanding sektor perumahan, kelompok ini bersifat sensitif karena menyentuh kebutuhan dasar sehari-hari. Dalam kerangka BRS, kenaikan berkelanjutan pada kelompok pangan kerap menjadi indikator awal tekanan inflasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Tekanan harga juga tercermin pada kelompok pendidikan yang meningkat 3,14 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 28,85 persen. Lonjakan pada sektor jasa ini mengindikasikan bahwa inflasi di Muara Bungo tidak semata disebabkan oleh komoditas, melainkan juga oleh peningkatan biaya layanan yang bersifat struktural dan cenderung bertahan.
Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran mencatat kenaikan yang relatif terkendali, seperti kesehatan (0,11 persen), informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,35 persen), serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,32 persen). Dalam perspektif BRS, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi bersifat tidak merata, namun menyebar di hampir seluruh komponen konsumsi.
Di sisi perkembangan jangka pendek, BRS juga mencatat deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,17 persen, sekaligus deflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,17 persen. Deflasi bulanan ini menandakan adanya penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya, yang dapat dipengaruhi oleh faktor musiman, stabilisasi pasokan, atau penyesuaian permintaan pasca-periode akhir tahun.
Namun, dalam pembacaan statistik, deflasi m-to-m tidak serta-merta meniadakan tekanan inflasi tahunan. Inflasi y-on-y yang masih tinggi menunjukkan bahwa penurunan harga tersebut bersifat sementara dan belum cukup kuat untuk memperbaiki tekanan biaya hidup secara struktural.
Dari sudut pandang kebijakan daerah, data BRS ini menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten Bungo dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk merumuskan respons yang lebih presisi. Pengendalian inflasi tidak cukup berfokus pada stabilitas jangka pendek, melainkan harus diarahkan pada kelompok pengeluaran dengan kontribusi inflasi terbesar dan dampak sosial paling luas.
Pada akhirnya, Berita Resmi Statistik tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga memberikan peta persoalan ekonomi daerah. Inflasi Muara Bungo di awal 2026 menunjukkan bahwa stabilitas harga masih menjadi tantangan nyata. Keberhasilan pemerintah daerah dalam merespons data ini secara tepat akan menentukan apakah inflasi dapat ditekan secara berkelanjutan, atau justru terus menjadi beban bagi daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
NUSAREPORT“Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”