NUSAREPORT-Jakarta, Memasuki hari kelima konflik bersenjata antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, pasar energi global mulai menunjukkan gejolak serius. Harga minyak mentah dan gas LNG dunia merangkak naik seiring ketidakpastian pasokan dari kawasan Teluk yang menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar dunia.

Ketegangan meningkat setelah Iran memblokade jalur strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi sekitar 20 persen kebutuhan minyak global. Jalur ini dilalui pasokan minyak dari negara-negara produsen utama seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menuju berbagai belahan dunia.

Dampak langsung mulai terasa pada Indonesia. Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan sekitar 19 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia diimpor melalui jalur Selat Hormuz. Saat ini, terdapat dua kapal tanker Pertamina yang belum dapat melintasi kawasan tersebut akibat situasi keamanan yang belum kondusif.

Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi fiskal dan ketahanan energi nasional masih dalam batas aman. Menteri Keuangan Purbaya menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap tangguh menghadapi tekanan global.

Menurutnya, ketahanan fiskal Indonesia ditopang oleh kinerja penerimaan pajak yang tumbuh signifikan pada awal tahun. Realisasi tax collection Januari–Februari 2026 tercatat meningkat sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini dinilai cukup untuk menjaga stabilitas APBN, termasuk dalam mengantisipasi potensi kenaikan beban subsidi energi.

Di sektor energi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional berada pada level aman. Saat ini cadangan BBM tercatat cukup untuk 23 hari konsumsi, sedikit di atas standar minimum nasional selama 21 hari.

Bahlil juga menegaskan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun terjadi dinamika geopolitik global. Ia menyebut pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipatif, termasuk koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN), guna menjaga stabilitas pasokan energi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

“Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insya Allah semuanya aman, termasuk LPG. Jadi tidak perlu ada keraguan, meskipun memang terjadi dinamika global di Iran dan Israel,” ujar Bahlil usai rapat terbatas di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.4/3

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan kesiapan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga menjelang Lebaran. Fokus utama pemerintah, kata dia, adalah memastikan pasokan tetap terjaga dan harga bahan pokok tetap terjangkau masyarakat.

“Saya mengurusi pangan, bagaimana Lebaran itu ketersediaan terjaga dan harga tetap terjangkau,” ujarnya.

Rapat terbatas tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang meminta seluruh kementerian terkait memastikan stabilitas pasokan energi dan pangan di tengah gejolak global.

Secara makro, eskalasi konflik Timur Tengah memang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor melalui kenaikan harga energi. Namun, dengan cadangan yang masih memadai serta ruang fiskal yang relatif kuat, pemerintah optimistis dampak langsung terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, pesan utama pemerintah jelas: stok aman, harga subsidi dijaga, dan APBN dalam kondisi terkendali menjelang momen krusial Idul Fitri.( Sumber Alliance diolah )

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *