NUSAREPORT-Jakarta,  Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak dunia. Namun sejumlah analis menilai konflik tersebut tidak semata-mata dipengaruhi faktor politik dan keamanan, melainkan juga berkaitan dengan dinamika ekonomi global, khususnya pergerakan harga energi.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai pergerakan harga komoditas global tidak hanya ditentukan oleh faktor fundamental seperti keseimbangan pasokan dan permintaan. Dalam praktiknya, sentimen pasar dan isu yang berkembang juga kerap menjadi penggerak utama harga.

“Fundamental itu terkait supply dan demand minyak. Sementara teknikal lebih berkaitan dengan isu atau sentimen yang berkembang di pasar,” ujar Yanuar dalam analisis yang dikutip pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam pasar komoditas maupun pasar keuangan, pihak yang mampu menguasai likuiditas sekaligus membentuk sentimen biasanya memiliki pengaruh besar terhadap arah pergerakan harga.

Menurutnya, transaksi besar di pasar sering kali membutuhkan penguasaan terhadap dua hal sekaligus: likuiditas yang beredar dan stok komoditas di pasar. Selain itu, pelaku pasar juga dapat memainkan peran sebagai pembentuk opini atau “market maker” melalui isu yang beredar.

“Untuk menggerakkan transaksi besar, pemain harus menguasai floating-nya, baik uang beredar maupun stok yang beredar. Selain itu juga menjadi market maker dari sisi isu,” katanya.

Dalam konteks politik global, Yanuar menyoroti gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kerap memunculkan isu besar yang berdampak langsung pada pasar keuangan internasional.

Ia mencontohkan kebijakan tarif impor yang pernah diumumkan Trump dan sempat mengguncang pasar global. Ketika kebijakan tersebut diumumkan, pasar keuangan langsung melemah. Namun ketika penerapannya ditunda, pasar kembali menguat.

“Begitu Trump mengumumkan tarif, pasar keuangan dunia bergejolak turun. Tapi ketika kebijakan itu dipause, pasar kembali ke atas,” ujarnya.

Situasi tersebut bahkan sempat memicu tudingan dari kalangan Partai Demokrat Amerika Serikat terkait kemungkinan praktik insider trading. Tuduhan itu muncul setelah Trump bertemu dengan sejumlah pengelola hedge fund dan menanyakan keuntungan yang mereka peroleh dari dinamika pasar.

Meski demikian, hingga kini Kongres Amerika Serikat tidak membentuk panitia khusus untuk menyelidiki tudingan tersebut.

Karena itu, Yanuar menilai pola komunikasi Trump yang sering memicu kontroversi dapat dibaca sebagai strategi untuk memainkan sentimen pasar.

“Kalau melihat Trump harus dengan sudut pandang yang dingin. Menurut saya dia sedang memainkan isu untuk mencari selisih,” tuturnya.

Dalam analisis yang lebih luas, Yanuar juga mengaitkan kondisi saat ini dengan perubahan besar dalam sistem moneter global pada 1971 ketika Presiden AS saat itu, Richard Nixon, memutus keterkaitan dolar dengan emas.

Keputusan tersebut mengakhiri era standar emas dan membuka jalan bagi sistem petrodolar, di mana kekuatan dolar AS semakin berkaitan erat dengan transaksi energi global.

Menurut Yanuar, perubahan tersebut membuat peredaran dolar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada cadangan emas, melainkan pada kekuatan sektor energi dan perdagangan minyak dunia.

“Sejak itu peredaran dolar semakin terkait dengan sektor migas. Karena itu setiap dinamika besar di pasar energi akan berdampak langsung pada sistem keuangan global,” ujarnya.

Sementara itu, dampak lonjakan harga minyak mulai dirasakan sejumlah negara yang bergantung pada impor energi. Pemerintah Pakistan misalnya, resmi menaikkan harga bensin dan solar sekitar 20 persen setelah harga minyak global melonjak tajam akibat konflik Iran.

Kenaikan tersebut setara sekitar 55 rupee per liter untuk bensin dan diesel. Pemerintah Pakistan menyatakan langkah ini terpaksa diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

Menteri Perminyakan Pakistan, Ali Pervaiz Malik, mengatakan pemerintah sebenarnya memiliki cadangan energi yang cukup, namun lonjakan harga global membuat penyesuaian harga domestik tidak dapat dihindari.

“Jika situasi mereda, harga akan segera kami turunkan dengan kecepatan yang sama,” katanya seperti dikutip dari Arab News, Sabtu (7/3/2026).

Pemerintah juga memperingatkan akan menindak tegas pihak yang menimbun bahan bakar atau memanipulasi pasokan untuk meraup keuntungan di tengah gejolak pasar energi.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Pakistan, Muhammad Aurangzeb, menyatakan pemerintah telah membentuk komite khusus untuk memantau perkembangan harga minyak global serta dampaknya terhadap inflasi, cadangan devisa, dan stabilitas ekonomi nasional.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Pakistan memang rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Setiap lonjakan harga biasanya langsung mendorong inflasi dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pekan lalu memicu aksi balasan di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran gangguan terhadap jalur pengiriman energi global.

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dari sekitar 78 dolar AS per barel pada awal Maret menjadi lebih dari 106 dolar AS per barel. Bahkan harga diesel internasional dilaporkan sempat menyentuh kisaran 150 dolar AS per barel.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *