
NUSAREPORT- Jakarta, Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel dinilai berpotensi memicu dampak berantai terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Konflik tersebut berisiko mendorong kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok di dalam negeri.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan lonjakan harga energi global hampir selalu berujung pada tekanan ekonomi di tingkat domestik. Menurutnya, jika harga minyak dunia terus meningkat, maka dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan jasa.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menekan daya beli masyarakat,” kata Amir, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif intelijen strategis, krisis energi jarang berdiri sendiri. Lonjakan harga minyak biasanya memicu efek domino berupa inflasi yang lebih tinggi, meningkatnya biaya produksi, serta tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, maka risiko ketidakpuasan sosial di tengah masyarakat juga dapat meningkat.
Situasi itu, menurut Amir, perlu diantisipasi oleh pemerintahan Prabowo Subianto agar dampak ekonomi global tidak berkembang menjadi persoalan sosial di dalam negeri. Ia menilai stabilitas harga kebutuhan pokok dan pengendalian inflasi menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Amir juga menyoroti dinamika percakapan publik di media sosial yang dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan peningkatan kritik terhadap pemerintah, terutama di platform X (Twitter). Dalam kajian intelijen sosial, menurutnya, ruang digital sering menjadi indikator awal meningkatnya ketegangan di masyarakat sebelum berkembang menjadi aksi di ruang publik.
“Dalam analisa intelijen sosial, media sosial sering menjadi indikator awal meningkatnya ketegangan publik. Narasi kritik yang masif bisa menjadi fase pemanasan sebelum muncul mobilisasi demonstrasi di lapangan,” ujarnya.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan munculnya aksi demonstrasi berskala besar setelah momentum Idulfitri, ketika aktivitas sosial dan politik masyarakat kembali berjalan normal setelah masa libur panjang.
“Setelah Lebaran biasanya aktivitas politik dan sosial kembali meningkat. Jika kondisi ekonomi ikut tertekan karena krisis energi, maka potensi demonstrasi bisa meningkat,” kata Amir.
Meski demikian, ia menekankan bahwa situasi tersebut masih berupa potensi yang sangat bergantung pada perkembangan konflik global serta kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di dalam negeri.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”