Klarifikasi Saiful Mujani memicu respons dari organisasi masyarakat dan kelompok mahasiswa yang menekankan pentingnya menjaga kritik tetap berada dalam koridor konstitusi dan stabilitas nasional.

NUSAREPORT-Jakarta, Polemik pernyataan pengamat politik Saiful Mujani terkait isu penggulingan Presiden Prabowo Subianto terus memantik gelombang reaksi dari berbagai elemen masyarakat. Setelah potongan video pernyataannya viral di media sosial, sejumlah organisasi kemasyarakatan dan kelompok mahasiswa menyampaikan sikap resmi, menyoroti pentingnya menjaga ruang demokrasi tetap berjalan dalam koridor hukum dan konstitusi.
Di tengah polemik yang berkembang, Saiful Mujani sebelumnya telah memberikan klarifikasi bahwa pernyataan yang disampaikan dalam forum “Halal Bihalal: Sebelum Pengamat Ditertibkan” di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 31 Maret 2026, bukanlah ajakan makar ataupun upaya menggulingkan pemerintahan secara inkonstitusional.
“Saya tegaskan itu bukan makar, tapi political engagement, yakni sikap politik atau sikap yang dinyatakan tentang isu politik di hadapan orang banyak,” ujar Saiful dalam keterangan tertulis.
Namun demikian, pernyataan tersebut memunculkan respons luas dari berbagai kalangan.
Dari unsur organisasi kemasyarakatan, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI) DKI Jakarta menyatakan penyesalan atas penggunaan diksi yang dinilai berpotensi memicu kegaduhan.
Ketua Pengurus Daerah IX FKPPI DKI Jakarta, Bambang Dirgantoro, menilai penggunaan narasi “menjatuhkan” presiden di luar jalur formal perlu dicermati secara serius.
“Kami menyayangkan diksi provokatif, meskipun kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang. Penggunaan diksi ‘menjatuhkan’ di luar jalur formal oleh seorang tokoh intelektual,” ujarnya,dikutip Kamis 9/4/2026
Menurut Bambang, kritik terhadap pemerintah harus tetap disalurkan melalui dialog, ruang demokrasi yang sehat, dan mekanisme yang telah diatur oleh konstitusi.
Ia mengingatkan agar bangsa tidak terjebak pada konflik internal yang menguras energi nasional.
“Segala bentuk narasi yang berpotensi menciptakan kegaduhan yang tidak produktif harus dihindari, agar energi bangsa tidak habis untuk konflik internal, melainkan fokus pada penguatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” katanya.
FKPPI juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghormati mandat rakyat yang telah diberikan kepada Presiden Prabowo melalui Pemilihan Presiden 2024, serta tetap fokus mendukung agenda pembangunan nasional.
Respons serupa datang dari kalangan mahasiswa.
Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) menilai pernyataan Saiful Mujani tidak dapat dipandang hanya sebagai kebebasan akademik semata.
Koordinator Pusat BEM KSI, Charles Gilbert, menyebut terdapat potensi tafsir publik yang dapat mengarah pada narasi inkonstitusional.
“Pernyataan tersebut tidak bisa dianggap sebagai kebebasan akademik semata. Ada potensi narasi yang mendorong tindakan inkonstitusional, dan ini harus disikapi secara serius oleh negara,” ujarnya.
BEM KSI juga menyoroti legitimasi pemerintahan yang sedang berjalan dan mendesak aparat penegak hukum untuk bersikap objektif serta transparan.
“Kami mendesak penegakan hukum yang adil, tegas, dan tidak tebang pilih,” tegas Charles.
Mereka juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga persatuan nasional.
Di tengah beragam respons tersebut, polemik ini menjadi gambaran bagaimana demokrasi bekerja dalam ruang publik Indonesia.
Di satu sisi, kebebasan berpendapat dan kritik terhadap pemerintah merupakan hak yang dijamin konstitusi. Namun di sisi lain, penggunaan diksi, konteks penyampaian, serta tafsir publik terhadap sebuah pernyataan politik dapat menimbulkan sensitivitas yang besar, terutama ketika menyangkut stabilitas nasional.
Perdebatan ini pada akhirnya menjadi ruang edukasi bagi publik untuk memahami batas antara kritik politik, kebebasan akademik, dan mekanisme konstitusional dalam sistem demokrasi.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”