
NUSAREPORT-Pos Lampung, – Pemerintah pusat semakin menajamkan fokus pada penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya kasus aktif, melainkan keberadaan kuman TB laten infeksi “tertidur” yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi penyakit aktif.
“Kuman TB yang dormant ini ibarat bom waktu. Dia tidak bergejala, tapi tetap hidup di dalam tubuh dan bisa aktif kapan saja,” ujarnya dalam kunjungan kerja di Bandarlampung, Selasa.14/4/2026
Situasi ini, menurutnya, membuat strategi penanganan TB tidak bisa lagi bersifat reaktif. Pemerintah kini mengedepankan pendekatan agresif melalui investigasi kontak. Artinya, ketika satu orang dinyatakan positif TB, seluruh orang yang tinggal serumah hingga lingkungan terdekat wajib diperiksa.
Langkah ini diperkuat dengan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) guna menekan potensi aktivasi kuman laten. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan sejak dini.
Indonesia sendiri masih menghadapi beban berat. Dengan angka kematian mencapai sekitar 125.000 jiwa per tahun, Indonesia kini berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TB. Fakta ini menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto, yang secara langsung menugaskan Kementerian Kesehatan untuk memimpin upaya percepatan eliminasi TB di lapangan.
Namun, pemerintah menyadari bahwa persoalan TB tidak semata-mata isu medis. Faktor lingkungan, kepadatan hunian, hingga sanitasi menjadi variabel penting yang menentukan keberhasilan penanganan.
“Tidak bisa hanya mengobati. Kita harus perbaiki kondisi rumah dan lingkungan pasien. Ini kerja lintas sektor,” tegas Wamenkes.
Dalam konteks ini, peran pemerintah daerah menjadi sangat strategis. Provinsi Lampung bahkan masuk dalam 11 wilayah prioritas nasional karena tingginya angka kasus. Meski demikian, capaian di daerah ini menunjukkan tren positif.
Notifikasi kasus TB di Lampung meningkat signifikan, dari sebelumnya sekitar 50 persen menjadi 80 persen. Pemerintah menargetkan capaian tersebut menembus angka di atas 90 persen pada tahun ini, sebuah indikator penting dalam mendeteksi dan menangani kasus secara lebih komprehensif.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mewujudkan target nasional. Kunjungan bersama Wamenkes ke Bandarlampung dilakukan untuk memastikan sinkronisasi program prioritas pemerintah, termasuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan percepatan penanganan TB.
“Presiden menargetkan TB bisa dituntaskan dalam tiga tahun. Ini bukan pekerjaan ringan, tapi bisa dicapai jika semua pihak bergerak bersama,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kesiapan Pemerintah Kota Bandarlampung, terutama dalam penguasaan data serta pemberdayaan kader kesehatan yang mencapai sekitar 10.000 orang. Dengan kekuatan ini, deteksi dini dan penelusuran kontak diyakini dapat berjalan lebih masif.
Pendekatan berbasis data pun menjadi kunci. Jika ditemukan ribuan kasus, maka puluhan ribu kontak erat harus segera diperiksa secara aktif. Strategi ini menegaskan bahwa penanganan TB tidak lagi menunggu pasien datang, melainkan negara yang harus hadir menjemput potensi kasus di tengah masyarakat.
Dengan kombinasi intervensi medis, penguatan data, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis target eliminasi TB bukan sekadar wacana. Namun, keberhasilan itu tetap bergantung pada konsistensi implementasi hingga ke level paling bawah.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”