BUNGO, NUSAREPORTRabu 3 Juni 2026,-  Komitmen membangun budaya demokrasi yang sehat dan berkelanjutan terus diperkuat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bungo melalui program Sekolah Pemilu Angkatan II. Memasuki sesi terakhir yang digelar pada Rabu (3/6/2026), para peserta mendapatkan pembekalan penutup dari Ketua Bawaslu Kabupaten Bungo, Ahmadi, MH, yang mengangkat tema sejarah, perjalanan, serta peran strategis Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut menandai berakhirnya rangkaian pendidikan kepemiluan yang telah berjalan selama beberapa bulan. Selama mengikuti Sekolah Pemilu Angkatan II, peserta memperoleh berbagai materi penting, mulai dari sejarah pemilu Indonesia, tahapan penyelenggaraan pemilu, manajemen logistik pemilu, partisipasi pemilih, pendidikan demokrasi, hingga pengawasan partisipatif. Program ini merupakan bagian dari upaya KPU Kabupaten Bungo dalam meningkatkan literasi politik dan kepemiluan masyarakat.

Dalam paparannya, Ahmadi menegaskan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara pemilu, tetapi juga oleh tingkat kesadaran masyarakat dalam mengawal setiap proses pemilu.

“Bawaslu lahir sebagai bagian dari kebutuhan bangsa untuk memastikan setiap tahapan pemilu berjalan sesuai prinsip jujur, adil, dan berintegritas. Pengawasan tidak hanya menjadi tugas Bawaslu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Karena itu, saya berharap peserta Sekolah Pemilu dapat menjadi pelopor pengawasan partisipatif di lingkungan masing-masing,” ujar Ahmadi.

Menurutnya, tantangan demokrasi ke depan semakin kompleks, terutama dengan derasnya arus informasi di era digital yang berpotensi memunculkan disinformasi dan polarisasi politik. Karena itu, masyarakat yang memahami proses kepemiluan memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi.

Sementara itu, Kepala Sekolah Pemilu Angkatan II KPU Kabupaten Bungo, Herifan, SH, menyampaikan bahwa program ini dirancang tidak sekadar memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga membentuk kader-kader demokrasi yang mampu menyebarluaskan pemahaman kepemiluan kepada masyarakat.

“Peserta telah menerima berbagai materi yang komprehensif mengenai kepemiluan. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diteruskan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya demokrasi dan partisipasi politik,” kata Herifan.

Ketua KPU Kabupaten Bungo, Armidis,S.Pd turut memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pembelajaran hingga selesai. Ia menilai keberadaan Sekolah Pemilu merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas demokrasi lokal.

“KPU Kabupaten Bungo berharap para alumni Sekolah Pemilu menjadi mitra strategis dalam pendidikan pemilih. Mereka adalah agen perubahan yang dapat membantu menyebarkan informasi kepemiluan yang benar, mendorong partisipasi masyarakat, serta menjaga nilai-nilai demokrasi di tengah kehidupan bermasyarakat,” ujar Armidis.

Lebih lanjut, Armidis menegaskan bahwa pendidikan pemilih harus menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak hanya dilakukan menjelang pemilu atau pilkada. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap demokrasi perlu dibangun secara terus-menerus agar lahir pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Program Sekolah Pemilu KPU Kabupaten Bungo sendiri menjadi salah satu inovasi pendidikan demokrasi yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran program ini menunjukkan bahwa penguatan demokrasi tidak hanya dilakukan melalui penyelenggaraan pemilu yang baik, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas warga negara sebagai pemilik kedaulatan.

Dengan berakhirnya Angkatan II, para peserta kini membawa tanggung jawab moral untuk menjadi penyambung informasi dan nilai-nilai demokrasi di tengah masyarakat. Di tangan generasi yang memahami proses kepemiluan, harapan untuk menghadirkan demokrasi yang semakin matang dan berintegritas menjadi lebih terbuka.

NUSAREPORT Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *