NUSAREPORT-Jambi, Kamis 11/12/25,- Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali memberi gambaran penting tentang arah ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Data terbaru menunjukkan satu pesan utama: konsumsi rakyat masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.

BI melaporkan, pada Oktober Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di level 219,7 atau tumbuh 4,3 persen secara tahunan, meningkat dibanding September yang tumbuh 3,7 persen. Secara bulanan, penjualan ritel juga naik 0,6 persen. Tren ini berlanjut pada November, ketika BI memperkirakan IPR naik ke level 222,1 dengan pertumbuhan 5,9 persen secara tahunan, didorong meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kenaikan penjualan ritel tersebut terutama ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi. Artinya, belanja masyarakat tidak hanya bertahan pada kebutuhan pokok, tetapi juga mulai bergerak ke kebutuhan sosial dan hiburan. Ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga.

Dari sisi makro, data BPS memperkuat temuan BI. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Pada triwulan III, konsumsi rumah tangga masih tumbuh mendekati 5 persen secara tahunan, meski sedikit melambat karena faktor musiman. Aktivitas konsumsi terutama terlihat pada sektor transportasi, komunikasi, serta jasa dan perdagangan.

Jika data BI dan BPS dibaca bersamaan, arahnya menjadi jelas. Penjualan ritel dan konsumsi rumah tangga bergerak naik secara bertahap, tidak melonjak tajam, tetapi konsisten. Ini menggambarkan ekonomi yang ditopang dari bawah—dari belanja harian masyarakat, pasar tradisional, warung, hingga pusat perbelanjaan.

Namun, di balik angka positif ini terdapat tantangan yang perlu diwaspadai. Menjelang Desember, peningkatan permintaan berisiko mendorong kenaikan harga jika pasokan dan distribusi tidak terjaga. Selain itu, pendapatan sebagian rumah tangga belum tentu tumbuh secepat konsumsi, sehingga ada risiko daya beli tertekan dalam jangka menengah. Ketimpangan konsumsi antar kelompok masyarakat juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Karena itu, peran negara menjadi krusial. Stabilitas harga, kelancaran distribusi, perlindungan pendapatan masyarakat, serta keberpihakan pada UMKM dan pedagang kecil menjadi kunci agar konsumsi rakyat tidak sekadar naik dalam data, tetapi benar-benar mencerminkan peningkatan kesejahteraan.

Pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal grafik dan persentase. Selama belanja dapur tetap berjalan dan pasar tidak sepi, ekonomi nasional masih punya fondasi. Data BI dan BPS menunjukkan fondasi itu masih ada. Tantangannya adalah memastikan fondasi tersebut tetap kokoh, agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *