Muara Bungo,- 31/12/2025-  Pembaca, edisi kali ini NUSAREPORT sebagai media yang fokus pada bidang politik, pemerintahan, dan ekonomi, lead di hari terakhir tahun 2025 dengan sebuah refleksi penting tentang arah ekonomi 2026 , sebuah fase penentuan yang tidak hanya menguji ketahanan makroekonomi Indonesia, tetapi juga keberanian bangsa ini melakukan transformasi yang sesungguhnya.

Sepanjang 2025, perekonomian nasional bergerak dalam koridor stabil dengan laju pertumbuhan di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama, menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto, sementara investasi, terutama di sektor hilirisasi, mulai menunjukkan dampak nyata terhadap struktur ekonomi. Proyeksi 2026 memperlihatkan kesinambungan pertumbuhan pada rentang 5,1 hingga 5,4 persen, dengan prasyarat utama berupa akselerasi investasi produktif dan pemulihan ekspor yang lebih berkualitas.

Stabilitas makro turut diperkuat oleh inflasi yang terkendali dalam sasaran Bank Indonesia, nilai tukar rupiah yang relatif terjaga, serta kepercayaan pasar global yang tercermin dari peringkat kredit Indonesia yang tetap berada pada level investment grade. Namun, di balik angka-angka yang tampak menenangkan itu, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah stabilitas ini telah diikuti perubahan struktural yang cukup dalam untuk membawa Indonesia melampaui ketergantungan lama pada komoditas mentah dan konsumsi jangka pendek.

Upaya hilirisasi mineral menjadi simbol paling nyata dari agenda transformasi tersebut. Lonjakan nilai ekspor produk olahan dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa kebijakan ini bukan sekadar jargon. Meski demikian, tantangan sesungguhnya justru terletak pada fase berikutnya, bagaimana memastikan hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan dasar, melainkan berkembang menjadi manufaktur maju yang menciptakan teknologi, lapangan kerja berkualitas, dan daya saing global.

Hal serupa terjadi pada ekonomi digital. Nilainya tumbuh pesat dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, tetapi fondasinya masih bertumpu pada konsumsi. Perdagangan daring, layanan berbasis aplikasi, dan ekonomi gig memang memperluas akses, namun belum sepenuhnya mendorong peningkatan produktivitas nasional. Masa depan ekonomi digital Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya beralih dari sekadar pasar menjadi produsen teknologi, inovasi, dan solusi industri.

Di sisi fiskal, negara masih dihadapkan pada dilema klasik antara stabilitas sosial jangka pendek dan investasi jangka panjang. Belanja subsidi, khususnya energi, tetap besar dan menyerap ruang fiskal yang seharusnya dapat dialihkan untuk memperkuat infrastruktur, pendidikan, dan kualitas sumber daya manusia. Tanpa pergeseran orientasi belanja negara, transformasi ekonomi berisiko berjalan lambat dan setengah hati.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah rendahnya produktivitas, kesenjangan digital antarwilayah, serta ketergantungan ekspor pada bahan mentah dan setengah jadi. Konsentrasi aktivitas ekonomi digital di Jawa, keterbatasan literasi teknologi pelaku usaha kecil, hingga lambatnya transisi energi menunjukkan bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya inklusif dan berkelanjutan. Sementara itu, tekanan eksternal berupa defisit transaksi berjalan dan kebutuhan pembiayaan global menuntut kebijakan yang semakin presisi dan adaptif.

Memasuki 2026, agenda reformasi tak lagi cukup disampaikan sebagai wacana. Penyederhanaan regulasi, peningkatan kualitas birokrasi, investasi serius pada pendidikan vokasi dan riset, serta pembangunan yang lebih merata di luar Jawa menjadi prasyarat mutlak. Demikian pula dengan strategi integrasi global yang lebih cerdas, melalui diversifikasi mitra dagang dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai internasional.

Dengan demikian, 2025 dapat dibaca sebagai tahun pengujian, sementara 2026 akan menjadi tahun pembuktian. Apakah Indonesia mampu menaikkan kelas ekonominya, menjadikan digitalisasi sebagai mesin produktivitas, serta mengubah bonus demografi menjadi kekuatan nyata, sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan keberanian memilih arah. Di titik inilah refleksi akhir tahun ini menemukan maknanya: stabilitas adalah fondasi, tetapi transformasi adalah tujuan. Tanpa yang kedua, pertumbuhan hanya akan menjadi rutinitas angka, bukan lompatan sejarah.

 ( REDAKSI –  Sumber: Bank Indonesia, BPS, Kementerian Keuangan, World Bank Indonesia, BKPM, kajian INDEF dan LPEM UI (proyeksi 2025).)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *