NUSAREPORT- Muara Bungo,- Kenaikan harga cabai kembali lebih pedas di  Pasar Bunggur pada Minggu (14/12/2025), memicu kekhawatiran di kalangan konsumen dan pelaku usaha di tengah meningkatnya kebutuhan akhir tahun. Pantauan NUSAREPORT menunjukkan lonjakan paling tajam terjadi pada cabai merah besar dan cabai keriting yang kini diperdagangkan di kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Harga tersebut melonjak hampir 50 persen dibandingkan Minggu ke-I Desember, ketika cabai merah masih berada di rentang Rp60.000–Rp65.000 per kilogram. Pedagang menyebut penyusutan pasokan dari sentra produksi akibat cuaca ekstrem sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan harga.

“Stok dari petani memang sedang minim. Banyak tanaman rusak karena hujan terus, jadi kiriman berkurang dan harga ikut naik,” ujar Mamat (48), pedagang sayur di Pasar Bunggur.

Kenaikan harga yang terjadi relatif cepat ini mulai menekan daya beli rumah tangga. Konsumen terpaksa menyesuaikan volume belanja, terutama untuk kebutuhan bumbu dapur harian.

“Dengan harga sekarang, mau tidak mau beli lebih sedikit atau cari pengganti. Untuk kebutuhan rumah tangga, ini cukup berat,” kata Sari (42), seorang ibu rumah tangga.

Tekanan harga tidak hanya terjadi pada cabai merah. Cabai rawit hijau bertahan di kisaran Rp55.000–Rp60.000 per kilogram, sementara cabai hijau besar diperdagangkan pada rentang Rp35.000–Rp40.000 per kilogram. Sebaliknya, komoditas pangan lain relatif stabil. Harga sayur-mayur seperti kubis, wortel, bayam, serta protein hewani seperti telur dan daging, tercatat belum mengalami perubahan berarti dibandingkan pekan lalu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi saat ini masih terkonsentrasi pada komoditas cabai, bukan bersifat menyeluruh. Namun, risiko lanjutan tetap terbuka apabila pasokan tidak segera pulih.

Berdasarkan tren pergerakan harga dan keterangan pedagang, Minggu ke-III Desember (22–28 Desember) berpotensi menjadi fase krusial. Tanpa perbaikan distribusi dan suplai, harga cabai merah besar diperkirakan masih bertahan tinggi, bahkan berisiko mendekati atau menembus level psikologis Rp100.000 per kilogram.

Jika eskalasi ini berlanjut hingga memasuki pekan akhir tahun, tekanan harga dikhawatirkan merembet ke sektor lain. Kenaikan biaya produksi berpotensi mendorong penyesuaian harga pada warung makan, usaha kuliner rumahan, dan jajanan pasar, yang pada akhirnya dapat memperberat beban konsumsi masyarakat dan memberi kontribusi tambahan terhadap inflasi akhir tahun.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *