
“Tak ada yang lebih setia
selain tanah yang kau pijak
dan keyakinan yang kau jaga
meski dunia menawari damai palsu.”
— Diponegoro
Seratus tujuh puluh satu tahun setelah wafatnya Pangeran Diponegoro, namanya masih bergema bukan sekadar sebagai pahlawan perang, melainkan sebagai simbol perlawanan kebudayaan, kedaulatan politik, dan integritas moral. Diponegoro (1785–1855) tidak pernah hanya bertarung melawan tentara kolonial Belanda. Ia melawan sebuah sistem: hegemoni yang merampas tanah, mengatur ekonomi, mengendalikan budaya, dan mengikis martabat.
Perang Jawa (1825–1830) adalah perang besar terakhir Nusantara melawan kolonialisme terbuka. Namun lebih dari itu, perang ini adalah penanda bahwa perlawanan sejati lahir dari kesadaran identitas dan keyakinan nilai. Dalam konteks dunia hari ini, yang kembali ditandai oleh rivalitas kekuatan besar, dominasi ekonomi, dan perang narasi global, warisan Diponegoro menemukan relevansinya yang paling aktual.
Kedaulatan yang Berakar, Bukan Sekadar Berdaulat
Bagi Diponegoro, penjajahan bukan hanya soal kekuasaan politik, tetapi juga ancaman terhadap tatanan Jawa-Islam: cara hidup, keyakinan, dan hubungan manusia dengan tanahnya. Penolakan Diponegoro terhadap Belanda adalah penolakan terhadap hegemoni peradaban.
Hari ini, bentuk hegemoni berubah rupa. Ia hadir melalui arus budaya global, algoritma digital, penetrasi ekonomi, dan narasi tunggal tentang “kemajuan”. Generasi muda Indonesia menghadapi tantangan yang serupa, meski tanpa meriam dan bayonet. Kedaulatan modern tidak hanya diukur dari batas wilayah, tetapi dari kemampuan bangsa menjaga identitas, menguasai ekonomi digital, dan menentukan narasi tentang dirinya sendiri.
Diponegoro mengajarkan satu hal mendasar: bangsa yang tercerabut dari akarnya akan mudah ditundukkan, bahkan tanpa penjajahan formal.
Perlawanan yang Bermartabat
Perlawanan Diponegoro tidak pernah kehilangan etika. Ia menolak kekerasan tanpa nilai, menjaga martabat musuh yang menyerah, dan menempatkan moral sebagai bagian dari strategi. Perang baginya adalah jalan terakhir, bukan tujuan.
Dalam dunia internasional yang hari ini dipenuhi praktik intervensi, proxy war, embargo sepihak, dan standar ganda, nilai ini terasa kontras sekaligus relevan. Indonesia, dan generasi mudanya tidak boleh terjebak dalam logika kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Politik luar negeri bebas-aktif bukan sekadar jargon, melainkan sikap etis untuk memperjuangkan kepentingan nasional tanpa kehilangan nurani.
Perlawanan hari ini adalah perlawanan yang cerdas: melalui diplomasi, ekonomi, inovasi, dan penguasaan wacana global.
Keteguhan Prinsip di Tengah Tekanan Global
Diponegoro menolak kompromi yang mengorbankan kedaulatan. Ia sadar, damai yang ditawarkan penjajah sering kali hanyalah penundaan penaklukan. Keteguhan ini menjadi pelajaran penting di tengah dunia yang masih didominasi oleh jaringan aliansi, institusi keuangan global, dan kontrol teknologi oleh segelintir kekuatan besar.
Generasi muda Indonesia dituntut memiliki kemandirian berpikir: tidak mudah larut dalam narasi besar siapa pun, tidak silau oleh kekuatan, dan tidak alergi pada kritik. Kemandirian nasional, baik ekonomi, teknologi, maupun pertahanan, tidak lahir dari kepatuhan, tetapi dari keberanian menentukan jalan sendiri.
Kekuatan Rakyat sebagai Fondasi
Perang Diponegoro adalah perang rakyat. Petani, santri, ulama, dan bangsawan bergerak dalam satu irama. Strategi gerilya yang lincah menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersumber dari senjata modern, melainkan dari legitimasi sosial dan dukungan rakyat.
Dalam konteks hari ini, medan perjuangan berpindah ke ketahanan pangan, energi, ekonomi kerakyatan, dan ruang digital. Disinformasi, ketergantungan teknologi, dan ketimpangan ekonomi adalah bentuk penjajahan baru. Ketahanan bangsa hanya bisa dibangun jika generasi muda hadir di garis depan: menguatkan literasi, menciptakan inovasi lokal, dan menjaga ruang publik dari dominasi narasi asing.
Ulama, Intelektual, dan Kepemimpinan Moral
Diponegoro adalah figur yang menyatukan spiritualitas dan kepemimpinan politik. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa etika akan rapuh, sementara moral tanpa keberanian akan lumpuh.
Di masa depan, Indonesia membutuhkan generasi pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kompas moral. Dalam pertarungan ideologi global, bangsa tanpa worldview yang kuat akan mudah terseret arus.
Dari Pedang ke Kesadaran
Haul Diponegoro bukan sekadar ritual mengenang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. hanya bentuknya yang berubah. Jika dahulu penjajahan datang dengan senjata, hari ini ia hadir melalui ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi, dan kolonisasi budaya.
Diponegoro mewariskan pesan yang sederhana namun tegas: berdiri di atas kaki sendiri, setia pada nilai, dan waspada terhadap kuasa yang datang membawa janji. Generasi muda Indonesia memikul tanggung jawab sejarah untuk memastikan bangsa ini tidak kembali menjadi objek dalam permainan global.
” Perjuangan kini bukan dengan pedang, melainkan dengan identitas, integritas, dan ketahanan nasional.”
Sumber, Prof. Daniel Mohammad Rosyid Guru Besar Teknik Kelautan ITS
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.“