
NUSAREPORT-Jakarta, 30/1/2026,- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami fluktuasi tajam pada awal perdagangan setelah pengumuman pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman. Pasar yang dibuka menguat 1,11% ke level 8.323,20 langsung berbalik melemah dan terkoreksi 0,74% ke posisi 8.171,24 pada pukul 09.33 WIB. Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. IHSG berhasil kembali menguat dan menutup sesi I perdagangan di level 8.329,15 atau naik 1,18%.
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (30/1/2026), Iman Rachman menyampaikan bahwa pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab pribadi setelah bursa mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut akibat volatilitas pasar yang tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan kepercayaan terhadap penyelenggaraan perdagangan efek.
Customer Engagement & Market Analyst Dept Head BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian administratif dalam jangka pendek. Namun, menurutnya, pasar justru cenderung memaknainya sebagai respons atas gejolak yang telah terjadi, bukan sebagai indikasi munculnya persoalan internal baru di tubuh BEI. “Pengunduran diri ini dibaca pasar sebagai upaya meredam sentimen negatif dan memulihkan kepercayaan investor,” ujar Chory dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Meski demikian, ia mengingatkan bahwa IHSG masih berada dalam fase rentan, terutama jika tekanan jual dari investor asing belum sepenuhnya mereda.
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas dan kredibilitas pasar modal nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan tiga langkah strategis. Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Langkah pertama adalah percepatan proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia yang ditargetkan mulai berjalan tahun ini. Transformasi ini bertujuan mengurangi potensi benturan kepentingan antara pengelola bursa dan anggota bursa, sekaligus memperkuat integritas penyelenggaraan pasar. Langkah kedua berupa penguatan tata kelola dan keterbukaan informasi, termasuk rencana peningkatan porsi free float saham dari 7,5% menjadi 15% yang diharapkan mulai berlaku pada Maret mendatang. Sementara langkah ketiga adalah peningkatan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar saham dari 8% menjadi 20%, sejalan dengan praktik negara-negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).
Pemerintah meyakini kombinasi demutualisasi bursa, peningkatan free float, dan perluasan basis investor institusional domestik akan memperkuat stabilitas perdagangan, meningkatkan transparansi, serta membawa pasar modal Indonesia lebih selaras dengan standar internasional.
Gejolak yang terjadi menunjukkan bahwa pasar modal bukan hanya sensitif terhadap sentimen, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas tata kelola dan kejelasan arah kebijakan. Di titik inilah, konsistensi reformasi dan komunikasi yang kredibel menjadi kunci agar kepercayaan publik tidak mudah terkikis oleh tekanan jangka pendek, sekaligus memastikan pasar tetap berfungsi sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”