
NUSAREPORT-Jakarta, Stabilitas harga pangan dunia mulai menunjukkan sinyal positif menjelang Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Kondisi ini dinilai dapat membantu menjaga kestabilan harga pangan di dalam negeri di tengah meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Lembaga riset ekonomi Institute for Development of Economics and Finance(Indef)menilai tekanan harga pangan global yang sebelumnya cukup tinggi kini mulai mereda seiring membaiknya pasokan di berbagai negara. Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, mengatakan harga pangan global memang belum sepenuhnya pulih, namun telah memasuki fase stabilisasi yang relatif konsisten.
Menurutnya, meredanya tekanan harga tersebut tidak terlepas dari meningkatnya produksi pertanian di sejumlah negara yang didukung kondisi cuaca yang lebih baik. Perbaikan produksi ini memperkuat ketersediaan stok pangan dunia sehingga tekanan harga yang sempat meningkat dalam beberapa waktu terakhir perlahan menurun.
Laporan Global Economic Prospects 2026 yang diterbitkan World Bank juga menunjukkan bahwa peningkatan produksi pertanian global menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketersediaan pasokan pangan. Dengan kondisi stok yang relatif memadai, pelemahan tekanan harga terjadi secara bertahap dalam konteks keseimbangan antara produksi dan kebutuhan global.
Di dalam negeri, dinamika harga pangan menjelang Ramadan dinilai menunjukkan moderasi dibandingkan dengan volatilitas yang terjadi pada tahun sebelumnya. Meskipun beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga, pergerakan tersebut masih berada dalam tren yang dapat diantisipasi melalui pengelolaan pasokan yang baik. Afaqa menilai meningkatnya permintaan selama Ramadan merupakan fenomena musiman yang wajar dalam siklus ekonomi tahunan Indonesia.
Selain sektor pangan, Indef juga menyoroti perkembangan pasar energi global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia sekaligus menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi.
Selama satu dekade terakhir, neraca perdagangan minyak dan gas Indonesia masih berada dalam posisi defisit. Pada akhir 2025, defisit migas tercatat sekitar 2,09 miliar dolar AS, yang menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi domestik. Di sisi lain, kondisi tersebut juga mendorong urgensi pengembangan energi alternatif serta peningkatan efisiensi energi nasional. Program bauran energi seperti biodiesel yang telah berjalan dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar sekaligus memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”