
NUSAREPORT-Bungo, Merebaknya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Selatan menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kabupaten Bungo untuk bergerak cepat memperkuat langkah antisipasi. Tingginya mobilitas masyarakat antarwilayah dinilai membuka potensi penyebaran kasus ke daerah perbatasan, sehingga kewaspadaan dini tidak bisa ditunda.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo, Rahmad Fitri, S.K.M., M.P.H., menegaskan bahwa Bungo segera mengambil langkah pencegahan agar lonjakan kasus di daerah tetangga tidak berdampak ke wilayah kabupaten.
“Dengan adanya KLB yang terjadi di wilayah Sumbar dan Sumsel, Kabupaten Bungo sesegera mungkin harus melakukan antisipasi. Mobilitas masyarakat antarprovinsi cukup tinggi, sehingga penguatan kewaspadaan dini menjadi prioritas,” ujar Rahmad Fitri dalam penjelasannya.di Muara Bungo Selasa , 7/4/2026
Langkah cepat itu dinilai semakin mendesak setelah data Dinas Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus suspek campak di Bungo. Lonjakan ini, menurut Rahmad, menjadi sinyal bahwa sistem pencegahan harus diperkuat, terutama melalui peningkatan cakupan imunisasi yang masih belum merata di sejumlah wilayah kerja puskesmas.
Sebagai respons, Pemerintah Kabupaten Bungo telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan dini terhadap peningkatan kasus dan potensi KLB campak. Seluruh rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, dan puskesmas diminta memperkuat deteksi dini, pelaporan cepat, serta tata laksana pasien sesuai standar medis.
Rumah sakit diminta segera melakukan penemuan kasus suspek, isolasi pasien minimal tujuh hari sejak muncul ruam, pemberian vitamin A sesuai dosis usia, serta terapi lanjutan berdasarkan kondisi klinis pasien. Sementara itu, seluruh puskesmas diarahkan untuk meningkatkan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi MR lengkap sesuai jadwal.
“Pencegahan yang paling efektif adalah imunisasi. Karena itu kami mendorong seluruh puskesmas melakukan imunisasi kejar bagi anak usia 0 sampai 59 bulan dan anak usia sekolah yang status imunisasinya belum lengkap,” jelas Rahmad.
Dinas Kesehatan juga memastikan ketersediaan vaksin MR dan seluruh logistik imunisasi dalam kondisi aman di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain langkah medis, penguatan surveilans juga menjadi fokus utama. Setiap kasus suspek campak diwajibkan dilaporkan dalam waktu 24 jam kepada Dinas Kesehatan untuk proses investigasi epidemiologi dan pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan.
Langkah ini diintegrasikan dengan pelaksanaan Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026 melalui program Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) yang berlangsung pada 6–12 April 2026, sebagai bagian dari percepatan perlindungan anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Pemerintah Kabupaten Bungo berharap sinergi seluruh tenaga kesehatan, sekolah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta keluarga dapat menjadi benteng utama untuk mencegah campak berkembang menjadi KLB di wilayah Bungo.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”