Konon, Tari Kuda Lumping adalah tarian kesurupan. Ada pula yang menyebutnya sebagai simbol pasukan Jathil, prajurit berkuda gagah dalam legenda Kerajaan Bantarangin abad ke-11. Namun, di balik kisah heroik dan unsur magisnya, kuda lumping menyimpan makna yang jauh lebih dalam: ia adalah ekspresi kegelisahan, harapan, dan daya juang rakyat kecil.

Gerakannya ritmis, dinamis, kadang liar. Anyaman bambu dikibaskan menyerupai kuda yang tengah menerjang lawan. Atraksi ekstrem, mengunyah kaca, berjalan di atas bara, hingga kebal senjata tajam, bukan semata hiburan, melainkan simbol kekuatan batin. Di sanalah kita menemukan pesan penting: bahwa perjuangan dalam sejarah Nusantara bukan hanya pertarungan fisik, tetapi juga pergulatan mental, spiritual, dan sosial.

Kuda lumping lahir dari rahim kebudayaan rakyat, di ruang hidup yang penuh kesederhanaan, solidaritas, dan kepercayaan. Ia menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat desa, sekaligus sarana memperkuat ikatan sosial. Dalam konteks inilah, kuda lumping mencerminkan watak Indonesia sebagai bangsa majemuk, yang tumbuh dari keberagaman suku, bahasa, agama, dan tradisi.

Dari Aceh hingga Papua, setiap daerah memiliki ekspresi budaya masing-masing. Namun, semuanya diikat oleh nilai yang sama: gotong royong, toleransi, dan rasa senasib-sepenanggungan. Budaya lokal bukan sekadar ornamen, melainkan pondasi kohesi sosial. Ketika budaya terpinggirkan, yang terancam bukan hanya tradisi, tetapi juga daya rekat kebangsaan.

Sayangnya, arus modernisasi dan globalisasi kerap melaju tanpa rem. Tradisi dipaksa berkompetisi dengan logika pasar dan industri hiburan. Kuda lumping perlahan tersisih, dianggap kuno, tak relevan, bahkan memalukan. Pada saat yang sama, ketimpangan ekonomi, polarisasi politik, dan fragmentasi sosial semakin menguat. Kita menyaksikan masyarakat yang kian mudah curiga, cepat marah, dan sulit percaya.

Kritik semacam ini pernah dilontarkan Iwan Fals lewat lagu Kuda Lumping. Lirik tentang elite yang “pandai menipu” dan “memperkosa fakta” bukan sekadar kemarahan personal, melainkan potret kegelisahan kolektif. Ia menyuarakan kecemasan bahwa kekuasaan yang kehilangan nurani akan memperlebar jarak antara yang kuat dan yang lemah.

Kini, memasuki Tahun Kuda Api 2026, dunia berada dalam pusaran ketidakpastian. Konflik geopolitik, ancaman krisis ekonomi, bencana alam, dan perubahan iklim menciptakan tekanan berlapis. Indonesia, sebagai bagian dari sistem global, tak luput dari dampaknya. Harga kebutuhan pokok fluktuatif, lapangan kerja menyempit, dan biaya hidup terus meningkat.

Dalam situasi seperti ini, kelompok rentan selalu menjadi pihak paling terdampak. Mereka yang hidup di garis tipis kemiskinan harus berjibaku dengan realitas keras, sering tanpa jaring pengaman memadai. Ketika tekanan hidup meningkat, kohesi sosial pun diuji. Di sinilah nilai kemajemukan menjadi sangat penting: apakah perbedaan akan menjadi sumber konflik, atau justru menjadi kekuatan bersama?

Bangsa ini telah membuktikan bahwa keberagaman bisa menjadi energi besar. Namun, energi itu hanya bekerja jika dipelihara dengan kebijakan adil, ruang dialog terbuka, dan kepemimpinan yang inklusif. Tanpa itu, kemajemukan berpotensi berubah menjadi fragmentasi, bahkan perpecahan.

Kuda lumping mengajarkan kita tentang ketangguhan kolektif. Dalam satu pertunjukan, penari, pemusik, pawang, dan penonton terhubung dalam satu ritme. Tidak ada yang berdiri sendiri. Semua saling menopang. Filosofi ini terasa kian relevan di tengah zaman yang cenderung individualistis.

Di sinilah makna penting merawat budaya: bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan menjaga ingatan kolektif tentang siapa kita. Bahwa bangsa ini dibangun oleh kerja bersama, bukan oleh segelintir elite. Bahwa kemajuan sejati bukan hanya milik mereka yang berada di puncak, melainkan harus dirasakan hingga ke lapisan terbawah.

Zaman gelisah menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Ia membutuhkan keberanian moral, keadilan sosial, dan empati kebangsaan. Kita memerlukan pemimpin yang tidak hanya pandai mengatur angka, tetapi juga mampu merawat rasa. Kebijakan yang tidak hanya efisien, tetapi juga manusiawi.

Di tengah kegaduhan politik, hiruk-pikuk media sosial, dan tekanan ekonomi, barangkali kita perlu berhenti sejenak, menonton kuda lumping, mendengar denting gamelan, dan merenungkan maknanya. Bahwa dalam kegilaan gerak dan hiruk suara, tersimpan pesan sederhana: jangan kehilangan arah, jangan kehilangan nurani.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling cepat berlari, melainkan bangsa yang tetap setia pada nilai kemanusiaan dan kebersamaan, meski jalan yang ditempuh penuh liku.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *