NUSAREPORT – Dusun Baru, Pelepat, 2/2/2026,- Pelestarian lingkungan kerap berhenti di ruang diskusi dan baliho kampanye. Namun di Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio, Dusun Baru, Kecamatan Pelepat, sekelompok mahasiswa memilih turun langsung ke ruang hidup yang selama ini dijaga masyarakat adat, bukan sekadar dibicarakan.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Institut Agama Islam (IAI) YASNI Bungo melakukan kunjungan lapangan ke kawasan hutan adat tersebut untuk melihat secara langsung kondisi hutan, tata kelola berbasis adat, serta tantangan ekologis yang mengintainya. Kegiatan ini menjadi penanda bahwa pelestarian tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus dijalani sebagai sikap.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya meninjau kawasan hutan, tetapi juga ikut berkontribusi dalam program adopsi pohon Dondang Kayu, salah satu jenis pohon penting yang memiliki fungsi ekologis dalam menjaga keseimbangan hutan adat. Sebagai bagian dari edukasi dan penegasan identitas ekologis, mahasiswa juga melakukan pemasangan papan nama Dondang Kayu di area hutan adat.

Dosen Pembimbing KUKERTA IAI YASNI Bungo, Neti Zulheti, ME, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual yang menghubungkan akademik dengan realitas sosial dan lingkungan.

“KUKERTA bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Mahasiswa harus belajar memahami ruang hidup masyarakat, termasuk bagaimana kearifan lokal menjaga hutan tetap lestari. Dari sini lahir kesadaran bahwa pelestarian bukan slogan, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Rangkayo Mulio, Malek, menilai keterlibatan mahasiswa menjadi penting di tengah semakin kaburnya batas antara pelestarian dan kepentingan jangka pendek.

“Hutan adat ini dijaga bukan karena kuatnya perlindungan formal, tapi karena kesadaran masyarakat. Ketika generasi muda mau turun langsung, itu berarti ada harapan bahwa hutan adat tidak akan terus dipinggirkan,” kata Malek.

Sikap tersebut ditegaskan oleh Renaldi, Ketua Posko KUKERTA IAI YASNI Bungo. Ia menyebut keberadaan mahasiswa di hutan adat sebagai bentuk penolakan terhadap sikap diam yang selama ini mempercepat kerusakan lingkungan.

“Mendukung pelestarian alam berarti berani menjaga hutan adat dari berbagai kepentingan yang mengancamnya. Selama hutan adat masih dipandang sebagai cadangan lahan, bukan ruang hidup, maka pelestarian hanya akan menjadi wacana,” ujar Renaldi.

Dukungan juga datang dari Hamdan, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bungo, yang turut hadir dan memberikan sokongan moral. Ia menilai kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat adat perlu dijaga agar pelestarian tidak berhenti pada momentum sesaat.

“Kegiatan seperti ini penting karena membangun kesadaran bersama. Tantangannya adalah bagaimana komitmen menjaga hutan adat terus hidup, tidak hanya saat kegiatan berlangsung,” ucap Hamdan.

Kehadiran mahasiswa KUKERTA IAI YASNI Bungo di Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio memperlihatkan satu pesan sederhana namun tegas: pelestarian tidak harus menunggu kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari langkah kecil, dari keberanian turun ke lapangan, dan dari kesediaan untuk berpihak pada ruang hidup yang selama ini bertahan dalam senyap.

NUSAREPORT ”Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *