
NUSAREPORT-Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi dipandang semata sebagai kebijakan pemenuhan nutrisi, tetapi telah berkembang menjadi instrumen pengungkit ekonomi nasional yang inklusif. Sejumlah indikator makro menunjukkan dampak signifikan program ini terhadap pertumbuhan sektor riil, terutama pertanian dan pemberdayaan tenaga kerja perempuan.
Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyampaikan hal tersebut di Jakarta, Sabtu (21/2/2026). Ia mengungkapkan bahwa pada kuartal IV 2025 pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,39 persen (year on year). Salah satu pendorong utamanya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya aktivitas investasi.
Di sisi sektoral, pertanian mencatat lonjakan pertumbuhan sebesar 5,33 persen (yoy). Angka ini melonjak tajam dibandingkan capaian 2024 yang hanya 0,68 persen. Menurut Fithra, kenaikan tersebut berkorelasi erat dengan peningkatan serapan produk petani lokal oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam skema MBG.
Penyerapan masif hasil produksi petani oleh SPPG menciptakan kepastian pasar di tingkat hulu. Dampaknya, gairah investasi di sektor pertanian meningkat, rantai pasok lebih terjamin, dan distribusi nilai tambah menjadi lebih merata. Dalam konteks ini, MBG berfungsi sebagai jangkar permintaan (demand anchor) yang memperkuat fondasi produksi domestik.
Transformasi tersebut juga berdampak signifikan pada pasar tenaga kerja. Hingga Februari 2026, tercatat sekitar 23 ribu unit SPPG telah beroperasi di berbagai daerah. Dari operasional tersebut, sekitar 1,4 juta tenaga kerja terserap langsung pada bagian dapur pengolahan. Sekitar 55 persen atau kurang lebih 770 ribu pekerja merupakan perempuan.
Fithra menilai pola investasi MBG bersifat inklusif karena sektor kuliner secara alami banyak melibatkan tenaga kerja perempuan, baik di sektor formal maupun informal. Dengan demikian, program ini membuka peluang ekonomi yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam struktur ekonomi keluarga.
Selain berdampak pada sisi produksi dan tenaga kerja, efek MBG juga dirasakan langsung di tingkat keluarga. Survei yang dilakukan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan sekitar 36 persen orang tua mengalami penurunan pengeluaran untuk bekal dan uang saku anak. Meski secara nominal penghematan umumnya masih di bawah 10 persen dari total belanja bulanan, efisiensi ini dinilai membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga rentan.
Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, dalam keterangan terpisah di Jakarta, Sabtu (21/2/2026), menambahkan bahwa manfaat MBG tidak semata finansial. Standar gizi yang terukur dan terjaga memberi ketenangan psikologis bagi orang tua karena beban kekhawatiran terhadap asupan nutrisi anak berkurang secara signifikan.
Secara keseluruhan, MBG memperlihatkan karakter kebijakan yang tidak hanya responsif terhadap isu kesehatan dan gizi, tetapi juga strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis produksi domestik dan inklusi sosial. Ke depan, konsistensi pengelolaan, pengawasan kualitas, serta keberlanjutan anggaran menjadi kunci agar dampaknya tetap terjaga dan merata.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”