Rektor Universitas Jambi (UNJA) Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H. menerima kunjungan LPHA Datuk Rangkayo Mulio Kabupaten Bungo ( Dok.LPHA – NR )

NUSAREPORT – Jambi,- Rabu, 24/12/2025- Di tengah maraknya isu kerusakan lingkungan di Provinsi Jambi, masyarakat adat Desa Baru, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, tetap konsisten menjaga dan melindungi hutan adat sebagai sumber kehidupan. Komitmen tersebut dilakukan melalui Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Datuk Rangkayo Mulio.

LPHA Datuk Rangkayo Mulio selama ini dikenal aktif menjaga kelestarian hutan adat di wilayahnya, di tengah tekanan alih fungsi lahan dan eksploitasi sumber daya alam. Upaya tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari dunia akademik.

Pada Rabu (24/12), jajaran LPHA Datuk Rangkayo Mulio yang diketuai Malek diterima oleh Rektor Universitas Jambi (UNJA) Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H., didampingi Wakil Rektor Dr. Fauzi Syam, S.H., M.H., serta Direktur Gita Buana, Heri Kuswanto. Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama dalam pengelolaan dan perlindungan hutan adat.

Rektor UNJA Prof. Helmi mengatakan pengelolaan hutan adat oleh masyarakat Desa Baru merupakan praktik baik yang perlu diperkuat melalui dukungan akademik dan riset.

“Apa yang dilakukan LPHA Datuk Rangkayo Mulio adalah contoh nyata pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal. Universitas Jambi siap mendukung melalui penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan pendampingan berkelanjutan,” kata Helmi.

Dalam pertemuan tersebut, UNJA dan LPHA menyepakati sejumlah pokok kerja sama, antara lain penguatan pengelolaan hutan adat berbasis ilmu pengetahuan, peningkatan kapasitas masyarakat adat, serta penyusunan data dan kajian ilmiah terkait hutan adat.

Kerja sama juga mencakup pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) tematik, magang, dan praktik lapangan mahasiswa di kawasan hutan adat. Selain itu, akan dilakukan pelatihan konservasi, pembibitan, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar hutan.

UNJA juga akan berperan sebagai pendamping dan mediator dalam menghubungkan LPHA dengan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), guna mendorong dukungan pendanaan yang berkelanjutan dan sesuai kebutuhan masyarakat adat.

Salah satu poin penting lainnya dalam kerja sama tersebut adalah penguatan akses pendidikan. Melalui kolaborasi ini, lulusan SMKN 13 Bungo diharapkan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Jambi.

Direktur Gita Buana Heri Kuswanto menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat adat menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan hutan.

“Perlindungan hutan adat memerlukan data, kajian ilmiah, dan dukungan pendanaan. Kerja sama ini menjadi model pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bungo Hamdan, yang selama ini aktif mendukung penguatan LPHA, mengatakan keberhasilan masyarakat Desa Baru dalam menjaga hutan adat perlu mendapat dukungan semua pihak.

“Di tengah banyaknya kawasan hutan yang mengalami kerusakan, masyarakat adat Desa Baru membuktikan bahwa hutan masih bisa dijaga. Ini patut menjadi contoh bagi daerah lain,” kata Hamdan.

Upaya LPHA Datuk Rangkayo Mulio menunjukkan bahwa peran masyarakat adat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dari Desa Baru, Kabupaten Bungo, masyarakat terus berupaya memastikan hutan adat tetap terjaga untuk keberlanjutan lingkungan dan generasi mendatang. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *