
NUSAREPORT- Jakarta,Rabu 7/1/2026,- Sebuah laporan mengejutkan beredar di media asing pada awal Januari 2026. Situs PrimeNews24, dalam artikelnya yang terbit Selasa (6/1/2026), mengklaim Presiden Venezuela Nicolás Maduro diekstraksi oleh pasukan khusus Amerika Serikat melalui sebuah operasi senyap berdurasi kurang dari 12 menit, tanpa perlawanan berarti dari pengawal istana.
Menurut laporan tersebut, operasi berlangsung di kediaman resmi Presiden di Caracas, dengan melibatkan pasukan elite Delta Force. PrimeNews24 menuliskan bahwa pasukan AS “tidak perlu bertempur untuk masuk”, karena penjaga perimeter luar disebut telah diperintahkan mundur, sementara kamera keamanan dan sistem alarm dinonaktifkan sebelum operasi berlangsung.
Dalam narasi itu disebutkan, saat pasukan khusus mencapai kamar pribadi Maduro, hanya dua pengawal yang tersisa. Keduanya dilaporkan langsung menyerah tanpa melepaskan tembakan. Dari proses pendaratan hingga lepas landas, seluruh misi disebut selesai dalam waktu kurang dari dua belas menit.
PrimeNews24 juga mengklaim bahwa operasi ini bukan keputusan mendadak, melainkan telah dipersiapkan lebih dari satu tahun. Titik lemah utama sistem keamanan Maduro, menurut laporan tersebut, berada pada lingkaran pengawalnya sendiri, yang disebut menghadapi tekanan ekonomi berat di tengah krisis Venezuela.
Media itu menyebut sedikitnya tiga pengawal inti direkrut dengan berbagai motif: seorang pengawal senior dengan anak yang sakit parah dan kesulitan mendapat perawatan medis, seorang pengawal muda yang frustrasi dengan sistem berbasis loyalitas politik, serta seorang pengawal lama era Hugo Chávez yang kecewa terhadap kepemimpinan Maduro. Amerika Serikat, menurut laporan itu, menawarkan US$10–20 juta per orang, identitas baru, kewarganegaraan AS, serta evakuasi aman bagi keluarga mereka.
Secara keseluruhan, PrimeNews24 mengklaim sedikitnya delapan anggota pengamanan telah “dikompromikan”, baik dengan peran aktif maupun dengan cara diminta menjauh dari pos pada waktu-waktu krusial. Operasi baru dijalankan ketika salah satu pentolan pengawal pribadi bertugas mengawal Maduro dan memiliki informasi detail keberadaan presiden menit demi menit.
Maduro sendiri, menurut laporan tersebut, disebut sedang tertidur ketika pasukan memasuki kamarnya. Satu versi menyebut ia langsung menyadari telah dikhianati dan sempat mengingatkan pengawalnya tentang sumpah setia. Namun, laporan itu menegaskan, situasi telah sepenuhnya terkendali.
Hingga berita ini ditulis kelanjutan narasi dan berita dari pemerintah Venezuela maupun otoritas Amerika Serikat yang membenarkan detail teknis operasi sebagaimana dituliskan PrimeNews24. Sejumlah pengamat menilai laporan tersebut perlu dibaca dengan kehati-hatian tinggi, mengingat sifatnya yang sangat rinci namun bersumber dari satu media.
Namun demikian, jika klaim itu benar, peristiwa ini berpotensi menjadi salah satu operasi intelijen paling berani dan kontroversial dalam sejarah hubungan Amerika Serikat – Venezuela, sekaligus membuka babak baru ketegangan geopolitik di Amerika Latin.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”