NUSAREPORT-Bungo, 23/1/2026,-  Di tengah ancaman deforestasi dan krisis ekologi yang kian nyata, sebuah gerakan berbasis kepedulian tumbuh dari hutan-hutan Indonesia. Gerakan itu bernama Pohon Asuh, sebuah program penyelamatan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang mengajak publik untuk terlibat langsung menjaga kelestarian hutan, bukan dengan menebang, melainkan dengan merawat.

Pohon Asuh memberi ruang bagi siapa pun untuk “mengadopsi” pohon di kawasan hutan lindung maupun hutan adat. Adopsi ini bersifat simbolis, namun berdampak nyata. Dana yang dihimpun dari publik digunakan untuk kegiatan operasional konservasi seperti patroli hutan, perawatan dan penandaan pohon, pemberdayaan ekonomi masyarakat penjaga hutan, serta kegiatan penghijauan.

Berbeda dengan gerakan tanam pohon konvensional, Pohon Asuh menekankan perlindungan terhadap pohon yang telah tumbuh, termasuk pohon-pohon tua yang menjadi penyangga utama ekosistem. Melalui skema crowdfunding, publik ikut mendanai upaya konservasi yang dikelola langsung oleh masyarakat sekitar hutan melalui lembaga pengelola resmi, seperti Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD).

Mekanisme program ini dirancang transparan dan akuntabel. Publik dapat memilih pohon yang ingin diasuh,  dana tersebut dikelola untuk kegiatan perlindungan hutan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, para pengasuh akan menerima laporan perkembangan pohon secara berkala serta sertifikat adopsi.

Tujuan Gerakan Pohon Asuh tidak hanya sebatas penghijauan. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas udara, mencegah penebangan liar, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat penjaga hutan. Inilah konsep manfaat ganda yang menjadi kekuatan utama Pohon Asuh, hutan terlindungi dan masyarakat berdaya.

Salah satu figur yang turut ambil bagian dalam gerakan ini adalah Thabrani, pria yang akrab disapa Bang Thab. Bertugas sebagai Polisi Hutan Penyelia dan berdomisili di Muara Bungo, Bang Thab dikenal memiliki pemahaman mendalam tentang kawasan hutan, termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Pengalaman panjangnya di lapangan menjadikannya saksi langsung bagaimana hutan menghadapi berbagai tekanan.

Bagi Bang Thab, mengadopsi Pohon Asuh bukan sekadar aksi simbolik, melainkan wujud tanggung jawab moral dan profesional terhadap kelestarian alam. Menurutnya, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan kewenangan dan patroli, tetapi juga dengan kesadaran kolektif yang melibatkan masyarakat luas.

Gerakan Pohon Asuh juga dilaksanakan di Hutan Adat Desa Baru, Kecamatan Pelepat, yang dikelola oleh masyarakat adat melalui lembaga pengelola hutan adat setempat. Setiap pohon yang diasuh akan dijaga dan diawasi langsung oleh pengelola hutan adat, memastikan bahwa amanah para pengasuh benar-benar dijalankan di lapangan.

Sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi publik, masyarakat yang ingin berkontribusi dalam Gerakan Pohon Asuh baik sebagai pengasuh pohon, donatur, maupun pendukung kampanye lingkungan, dapat menghubungi Redaksi NUSAREPORT melalui nomor telepon yang tersedia. Redaksi membuka ruang informasi dan pendampingan bagi publik yang ingin terlibat langsung dalam gerakan penyelamatan hutan ini.

Melalui Pohon Asuh, hutan tidak lagi berdiri sendiri. Ia dijaga, dirawat, dan dicintai secara kolektif, dari desa hingga kota, dari satu pohon hingga bentang alam yang lebih luas. Sebab setiap pohon yang diasuh hari ini adalah napas bagi generasi masa depan.

NUSAREPORTTanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *