NUSAREPORT-Jambi,- Memasuki minggu kedua Desember 2025, kondisi alam di Jambi menunjukkan kecenderungan yang sejalan antara hasil kajian BMKG dan pembacaan musim menurut Pranata Mangsa Jawa. Hujan yang mulai rutin turun sejak awal bulan, angin barat yang menguat, serta langit yang hampir setiap hari tertutup awan pekat menjadi penanda jelas dimulainya periode air besar yang lazim terjadi pada akhir tahun. BMKG mencatat bahwa sepanjang 8–14 Desember, wilayah Jambi berada dalam dominasi hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari hujan ringan hingga lebat yang sesekali dapat disertai petir dan angin kencang. Situasi ini dipicu oleh dinamika atmosfer tropis seperti gelombang Rossby dan Kelvin yang meningkatkan pembentukan awan hujan di Sumatra bagian tengah dan selatan.

Menariknya, gambaran ilmiah tersebut beririsan kuat dengan pranata Mangsa Dhesta dalam tradisi Jawa, yang berlaku mulai 10 Desember hingga awal Januari. Dalam catatan leluhur, masa ini ditandai dengan turunnya hujan hampir setiap hari, meningkatnya kekuatan angin barat, serta kondisi tanah yang semakin basah dan rawan becek. Ungkapan lama “banyu agung wiwit teka, angin barat saya galak” kini terasa sangat relevan ketika melihat keadaan cuaca di Jambi, di mana sungai mulai meninggi dan beberapa titik rawan genangan kembali perlu diwaspadai. Kombinasi observasi modern dan kearifan lokal ini memperlihatkan bagaimana ritme alam sesungguhnya dapat dibaca melalui dua pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi.

Prediksi cuaca dalam satu pekan ke depan memperlihatkan potensi hujan yang masih konsisten sejak Senin hingga Minggu. Pada awal pekan, hujan diperkirakan turun hampir setiap hari, terutama pada sore dan malam, dengan suhu lembap yang menjadi ciri puncak musim hujan. Menjelang pertengahan pekan, intensitas hujan berpotensi meningkat dan beriringan dengan angin yang lebih kencang, sehingga warga disarankan berhati-hati terhadap pohon tumbang maupun gangguan perjalanan. Pada akhir pekan, hujan masih mungkin terjadi namun cenderung lebih tenang, meski awan tebal dan kelembapan tinggi tetap menghiasi langit Jambi dari pagi hingga malam.

Jika dibaca bersamaan, cuaca minggu kedua Desember tahun ini bukan hanya rangkaian data ilmiah maupun tafsir budaya, melainkan pengingat bahwa alam memiliki pola yang terus berulang. Seperti yang telah dipahami nenek moyang Jawa ratusan tahun lalu, dan kini ditegaskan kembali oleh instrumen meteorologi modern, Desember adalah masa ketika air turun, angin bergeser, dan manusia diingatkan untuk bersiap serta beradaptasi. Dalam harmoni antara sains dan tradisi itulah kita dapat menemukan inspirasi: bahwa memahami alam bukan sekadar membaca angka, melainkan juga membaca tanda. (Redaksi -dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *