
NUSAREPORT-Jakarta, Kanker paru-paru tidak hanya mengintai perokok aktif. Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC), Dr. Tanujaa Rajasekaran, menjelaskan bahwa kanker paru tetap menjadi salah satu kanker yang paling sering ditemukan pada pria dan wanita, termasuk pada mereka yang tidak merokok.
“Jadi di antara laki-laki, kanker paru-paru jadi kasus nomor satu, tapi pada wanita, itu ranking terbanyak nomor lima. Dan kalau disatukan antara laki-laki dan perempuan, kanker paru ada di nomor dua, jadi di semua populasi kejadian paling umum kanker paru-paru,” kata Tanujaa dalam media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif” di Jakarta, Kamis.26/2
Tanujaa memaparkan, sekitar 10 persen pasien, baik pria maupun wanita, dapat mengidap kanker paru jenis sel kecil. Sementara sekitar 90 persen lainnya merupakan kanker paru non-sel kecil. Jenis non-sel kecil ini, menurutnya, cukup sering ditemukan pada kelompok nonperokok.
Meski demikian, penyebab kanker paru pada nonperokok masih terus diteliti. Tanujaa menyebut, salah satu dugaan kuat berkaitan dengan abnormalitas atau mutasi pada sel yang berkembang tanpa terkendali hingga memicu mutasi gen penyebab kanker paru. Faktor usia juga berperan, karena seiring bertambahnya umur kemampuan tubuh memperbaiki kerusakan sel dapat menurun. Di luar itu, paparan lingkungan ikut dinilai berkontribusi meningkatkan risiko, meski tingkat pengaruhnya dapat berbeda pada setiap individu.
Berbeda dengan beberapa kanker lain seperti kanker prostat, kanker payudara, atau kanker usus besar yang relatif lebih sering terdeteksi lebih awal, kanker paru memiliki angka kematian yang tinggi karena banyak kasus baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut. Salah satu penyebabnya, kanker paru kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
“Berbeda dengan kanker paru-paru, itu biasanya terjadi di stadium yang sudah akhir, yang sudah lanjut begitu gejala timbul dan banyak yang sudah metastasis artinya sudah menyebar di organ tubuh lainnya, dan semakin lama kanker paru terdeteksi semakin rendah harapan hidupnya,” ujar Tanujaa.
Ia menjelaskan, gejala yang umum muncul antara lain mudah lelah, nyeri dada, batuk yang tidak berhenti atau berkepanjangan, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas. Namun pada stadium awal, keluhan tersebut sering tidak terasa. Ketika gejala mulai nyata, banyak pasien justru sudah berada pada stadium tiga hingga empat.
Karena itu, Tanujaa menekankan pentingnya deteksi dini, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga, misalnya orang tua dengan kanker paru, atau mengalami keluhan menetap seperti batuk berkepanjangan disertai mudah lelah. Salah satu metode yang disarankan adalah CT scan dosis rendah (low-dose CT scan), yang disebut dapat membantu menemukan kanker lebih cepat dan menurunkan angka kematian akibat kanker paru hingga 20 persen.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”