NUSAREPORT-Muara Bungo, Minggu,4/1/2026,-   Isu influenza A (H3N2) atau yang populer disebut super flu belakangan ramai diperbincangkan dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun pemerintah menegaskan bahwa penyakit ini bukan ancaman baru dan tidak perlu disikapi dengan kepanikan.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa Influenza A (H3N2) subclade K merupakan bagian dari influenza musiman yang sudah lama dikenal. Ia menegaskan situasi nasional masih dalam kondisi terkendali.

“Ini bukan virus baru dan bukan penyakit mematikan seperti COVID-19. Situasinya masih terkendali, jadi masyarakat tidak perlu panik atau khawatir berlebihan. Yang penting jaga kesehatan dan daya tahan tubuh,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (2/1/2026).

Secara ilmiah, Influenza A (H3N2) adalah subtipe virus influenza A yang dinamai berdasarkan protein hemagglutinin (H3) dan neuraminidase (N2). Virus ini rutin beredar setiap musim flu dan menjadi salah satu strain yang diperhitungkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam vaksin influenza tahunan.

WHO mencatat, secara global influenza musiman menyebabkan sekitar 3–5 juta kasus penyakit berat dan 290.000–650.000 kematian setiap tahun, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan bahwa lonjakan kasus tidak otomatis berarti peningkatan keganasan virus.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI melaporkan temuan 62 kasus influenza A (H3N2)subclade K hingga akhir Desember 2025. Pemerintah menilai tidak ada indikasi keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman biasa. Mayoritas pasien mengalami gejala ringan hingga sedang seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan kelelahan.

Sementara itu, Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Agung Nugroho, menilai isu super flu di Indonesia terlalu dibesar-besarkan melalui narasi alarmistik.

“Ini penyakit biasa yang kemudian diamplifikasi. Bukan hanya oleh media, tetapi juga oleh ekosistem teknologi dan komunikasi yang bekerja hari ini,” ujar Agung dalam keterangannya, Minggu (4/1/2026).

Pemerintah menegaskan pendekatan utama dalam menghadapi influenza A (H3N2) tetap sederhana dan berbasis bukti: menjaga kebersihan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memanfaatkan vaksin influenza bagi kelompok berisiko. Surveilans nasional terus dilakukan untuk memastikan perkembangan kasus tetap terkendali.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diimbau tidak mudah terpengaruh narasi berlebihan dan menjadikan sumber resmi sebagai rujukan utama agar kewaspadaan tidak berubah menjadi kepanikan.

Sumber: WHO, CDC, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (Tanjung Priok, 2 Januari 2026), serta keterangan Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia Agung Nugroho (4 Januari 2026).

NUSAREPORT : “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *