NUSAREPORT-Jakarta,- Sabtu 07/11/2026. Pendidikan politik tidak cukup hanya membekali kader dengan pemahaman tentang organisasi dan kepartaian. Lebih dari itu, pendidikan politik diharapkan melahirkan sumber daya manusia yang mampu menggerakkan organisasi, memahami persoalan masyarakat, serta berkontribusi dalam proses perubahan. Arah tersebut menjadi bagian dari pengembangan program Akademi Bela Negara (ABN) dan Akademi Perempuan NasDem (APN).
Melalui program Laga Perubahan 2.0 NasDem Naik Kelas, ABN Partai NasDem menargetkan pelatihan bagi 5.200 kader penggerak hingga akhir 2026. Hingga 31 Oktober 2026, program tersebut telah menjangkau 3.963 kader dari 24 provinsi atau sekitar 74 persen dari target. Sisa peserta ditargetkan mengikuti lima angkatan lanjutan pada akhir November hingga awal Desember.
Gubernur ABN NasDem, Nining Indra Shalih, mengatakan program tersebut diarahkan untuk membentuk kader yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga mampu menjadi penggerak di wilayah masing-masing.
“Kita juga mendidik para kader-kader penggerak yang ada di wilayahnya masing-masing sehingga dengan kegiatan-kegiatan ini diharapkan Partai NasDem bisa naik kelas,” ujar Nining,
Dalam pelaksanaannya, Laga Perubahan 2.0 mengangkat tema Party Building, Kader Penggerak, dan NasDem Naik Kelas. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai penguatan organisasi, strategi mengaktifkan kegiatan partai, serta peran kader di berbagai tingkatan kepengurusan, mulai dari DPW, DPD hingga DPC. Pembelajaran juga dilakukan melalui diskusi kelompok untuk merumuskan langkah penguatan organisasi di daerah.
Program ini turut menekankan pentingnya hubungan kerja antara kader yang berada di pemerintahan, parlemen, dan struktur partai. Ketiganya diharapkan dapat menjalankan peran secara selaras dalam menerjemahkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan, melaksanakan fungsi legislasi dan pengawasan, serta menjaga komunikasi dengan publik.
Sementara itu, Akademi Perempuan NasDem mengembangkan pendidikan kepemimpinan dengan menempatkan perempuan sebagai subjek perubahan. Programnya tidak hanya menyasar kader perempuan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi perempuan muda untuk membangun kepercayaan diri, kemandirian, kepedulian sosial, dan keberanian mengambil peran.
Salah satu kegiatan terbarunya adalah For Girls: Memimpin Diri, Sesama, Bumi dan Dunia — Ayo Jadi Avatar yang diselenggarakan di NasDem Tower, Jakarta, pada 7 November 2026. Kegiatan tersebut diikuti 222 peserta dari berbagai daerah melalui pertemuan langsung dan daring. Program ini dirancang untuk memperkenalkan kepemimpinan yang berlandaskan kepedulian terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kehidupan bersama.
Ketua APN, Amelia Anggraini, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan atau kedudukan. Kemampuan mengenali potensi diri, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan memberikan pengaruh positif juga merupakan bagian penting dari kepemimpinan.
“Pemimpin itu adalah orang yang mampu mengenali dirinya sendiri, berani mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan membawa pengaruh yang baik bagi orang lain,” kata Amelia dalam kegiatan tersebut.
Sebelumnya, APN juga menggelar Training Care Leadership di Semarang, Jawa Tengah, pada Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 150 kader perempuan itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan pengorganisasian politik, sekaligus mendorong terciptanya ruang politik yang aman bagi perempuan dan anak serta aksi nyata di tengah masyarakat.
Penguatan kapasitas perempuan juga dilakukan melalui Woman’s Writing Clinic: Perempuan Menulis, Agensi Strategis. Program ini mendorong perempuan mengembangkan kemampuan membaca persoalan sosial, menyusun argumentasi berbasis fakta, serta mengubah pengalaman dan pengetahuan menjadi gagasan yang dapat memperkaya diskursus publik dan kebijakan. Rangkaian kegiatannya berlangsung sejak Oktober hingga tahap pendampingan yang dijadwalkan berlanjut sampai 19 November 2026.
Ragam program tersebut memperlihatkan bahwa ABN dan APN menempuh jalur pembelajaran yang berbeda, tetapi saling melengkapi. ABN lebih menitikberatkan penguatan organisasi dan kader penggerak, sedangkan APN memberi perhatian pada kepemimpinan perempuan, kemampuan menyampaikan gagasan, serta perluasan partisipasi dalam kehidupan publik.
Tantangan bagi ABN dan APN bukan hanya memperluas jangkauan pelatihan, melainkan memastikan proses pendidikan menghasilkan kader yang berintegritas, memiliki kapasitas, mampu bekerja, dan peka terhadap persoalan publik. Pendidikan politik akan memperoleh makna lebih kuat ketika hasil pembelajaran tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi tercermin dalam tindakan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
*Sumber: diolah untuk NUSAREPORT.Com







