Ecoprint Batik Markeh Memikat Evaluator UNESCO..

NUSAREPORT-Merangin,  Bukan fosil purba atau bentang alam yang menjadi satu-satunya perhatian tim evaluator UNESCO saat meninjau kawasan Merangin Jambi UNESCO Global Geopark. Di Desa Markeh, Kecamatan Renah Pembarap,Selasa 11/8,  perhatian mereka justru tertuju pada selembar kain yang dibuat menggunakan daun, diproses dengan teknik pewarnaan alami, kemudian dikukus hingga menghasilkan pola yang khas.

Teknik ecoprint yang dikembangkan perajin Batik Srikandi Markeh itu menarik perhatian dua evaluator internasional dalam rangkaian penilaian lapangan revalidasi Merangin Jambi UNESCO Global Geopark 2026. Salah seorang evaluator, Prof. Jeon Yongmun dari Korea Selatan, mengaku menemukan pengalaman yang berbeda ketika melihat proses pembuatan kain tersebut.

“Baru di sini saya melihat ada batik yang dibuat dengan cara dikukus,” ujar Jeon saat berada di Merangin.

Kehadiran dua evaluator tersebut bukan sekadar kunjungan untuk melihat produk kerajinan. Revalidasi merupakan bagian dari mekanisme evaluasi UNESCO terhadap keberlanjutan pengelolaan sebuah UNESCO Global Geopark. Balai Bahasa Provinsi Jambi sebelumnya menyebut proses revalidasi Merangin dilakukan dalam siklus empat tahunan untuk menilai apakah kawasan tersebut masih memenuhi persyaratan sebagai UNESCO Global Geopark.

Merangin Jambi sendiri memperoleh status UNESCO Global Geopark pada 2023. UNESCO mencatat kawasan ini memiliki luas sekitar 4.832 kilometer persegi dan mencakup 12 dari 24 kecamatan di Kabupaten Merangin. Keunggulan utamanya bukan hanya kekayaan geologi, termasuk fosil flora Jambi dari periode Permian Awal, tetapi juga keterkaitan antara warisan alam, budaya, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, keberadaan produk kerajinan masyarakat seperti batik ecoprint menjadi bagian penting dari cerita yang ingin dibangun melalui geopark. Produk tersebut memperlihatkan bagaimana identitas lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi tanpa melepaskan unsur edukasi dan pelestarian pengetahuan masyarakat.

Pengelola Batik Srikandi Desa Markeh, Meri Diastuti, mengatakan kegiatan membatik telah memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang terlibat. Produksi tidak hanya menghasilkan barang kerajinan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan dari hasil penjualan.

“Sangat berdampak. Masyarakat yang terlibat mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil penjualan batik ini,” kata Meri.

Rumah batik yang dikelolanya bersama masyarakat juga berkembang menjadi ruang pembelajaran. Kelompok PKK, Dekranasda hingga pelajar dapat datang untuk mengenal sekaligus mempraktikkan proses pembuatan batik cap, batik tulis maupun ecoprint.

Pengalaman tersebut membuat rumah batik tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi sekaligus menjadi bagian dari aktivitas edukasi berbasis masyarakat di kawasan geopark.

Dalam kunjungan tersebut, Jeon dan evaluator lainnya, Nicolas Klee dari Prancis, turut mencoba secara langsung sejumlah tahapan pembuatan batik. Klee bahkan mendorong agar produk dan pengalaman masyarakat Markeh tidak berhenti pada pasar lokal, tetapi dikembangkan melalui jaringan kerja sama antar-geopark.

Ia mengusulkan adanya pertukaran budaya atau studi banding dengan komunitas di geopark Thailand yang memiliki aktivitas serupa dan dinilai mampu menarik wisatawan internasional.

“Bagaimana jika kelompok di sini melakukan pertukaran budaya atau studi banding ke geopark di Thailand?” usul Klee melalui penerjemah dari Balai Bahasa Provinsi Jambi, Lukman.

Usulan tersebut membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan batik Markeh. Apalagi UNESCO menempatkan geopark bukan semata-mata sebagai kawasan dengan keunikan geologi, melainkan sebagai sarana yang menghubungkan konservasi, pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Thailand sendiri memiliki Khorat UNESCO Global Geopark yang sama-sama memperoleh status UNESCO pada 2023. Keberadaan jaringan geopark internasional tersebut memungkinkan pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan geowisata, produk lokal, edukasi masyarakat dan pengembangan ekonomi berbasis kawasan.

Bagi Meri, gagasan tersebut menjadi peluang yang layak dikembangkan apabila mendapat dukungan pemangku kepentingan.

“Saran itu akan menjadi catatan kami dan mudah-mudahan bisa difasilitasi oleh Badan Pengelola Geopark Merangin Jambi,” ujarnya.

Yang menarik perhatian evaluator bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses pembuatannya. Saat praktik ecoprint, daun ditempelkan pada kain untuk menghasilkan pola alami. Kain kemudian digulung dan diproses dengan pengukusan agar pigmen dari material tumbuhan berpindah ke permukaan kain.

Suasana menjadi lebih cair ketika kedua evaluator ikut dalam proses tersebut. Saat diminta membantu menginjak kain agar proses penempelan motif berlangsung sempurna, Jeon dan Klee melakukannya dengan cara yang mengundang tawa para perajin dan warga.

Di balik momen tersebut terdapat pesan yang lebih besar bagi keberlanjutan Geopark Merangin Jambi. Keberhasilan sebuah geopark tidak cukup diukur dari banyaknya situs geologi yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan kawasan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk menjaga pengetahuan lokal sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

UNESCO mencatat Merangin Jambi memiliki kekayaan geologi yang luar biasa, termasuk fosil flora berusia ratusan juta tahun, kawasan karst, bentang alam vulkanik dan berbagai warisan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed