NUSAREPORT-Bungo, Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang meningkat pada musim kemarau dan mulai berdampak terhadap kondisi udara di sejumlah wilayah Jambi, Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Datuk Rangkayo Mulio Dusun Baru Pelepat, Kabupaten Bungo, bersama siswa SMKN 13 Bungo melakukan patroli hutan sebagai langkah antisipasi dan pencegahan dini.
Kegiatan patroli tersebut dimulai pada Senin, 31 Agustus 2026, dan akan terus dilanjutkan selama musim kemarau dengan sistem piket secara bergiliran. Pola tersebut diterapkan untuk memastikan pengawasan kawasan hutan tetap berjalan secara rutin dan tidak hanya dilakukan ketika muncul indikasi kebakaran.
Patroli melibatkan sejumlah unsur masyarakat, termasuk siswa SMKN 13 Bungo dan kaum Perempuan Lestari Hutan. Keterlibatan berbagai elemen ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengawasan berbasis masyarakat, terutama karena masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan memiliki posisi paling dekat untuk mengenali perubahan kondisi lingkungan maupun potensi munculnya titik api.
Ketua LPHA Datuk Rangkayo Mulio, Malek, mengatakan kegiatan patroli tersebut dilakukan secara swadaya sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat dan pelajar dalam menjaga kawasan hutan.
“Kegiatan ini dilakukan secara swadaya. Ini merupakan kewajiban masyarakat dan pelajar untuk menjaga hutan dari segala bentuk kemungkinan yang dapat mengancam kelestariannya,” ujar Malek.
Menurutnya, upaya menjaga hutan seharusnya mendapatkan perhatian yang sama besar dengan penanganan ketika kebakaran telah terjadi. Pencegahan, kata dia, semestinya menjadi bagian utama dalam menjaga kawasan hutan agar tidak sampai mengalami kerusakan akibat kebakaran.
Malek menilai terdapat persoalan dalam pola perhatian terhadap kawasan hutan. Ketika hutan terbakar dan bencana sudah terjadi, pemerintah dinilai lebih mudah memberikan bantuan, sementara ketika masyarakat secara mandiri berupaya menjaga hutan agar tetap lestari, dukungan yang diterima justru dinilai masih minim.
“Kalau hutan sudah terbakar, pemerintah selalu memberikan bantuan. Tetapi kalau hutan dijaga, pemerintah sepertinya enggan memberikan bantuan,” kata Malek.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi harapan agar upaya pencegahan yang dilakukan masyarakat mendapat dukungan lebih konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk sarana patroli, peralatan pemantauan, maupun penguatan kapasitas masyarakat dalam mencegah dan menangani potensi Karhutla sejak dini.
Dalam kegiatan patroli, LPHA Datuk Rangkayo Mulio juga memanfaatkan drone untuk melakukan pemantauan kawasan dari udara. Teknologi tersebut digunakan untuk menyisir wilayah yang luas dan mengidentifikasi lokasi yang dinilai memiliki potensi terjadinya kebakaran.
Pemanfaatan drone menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan pengawasan, terutama terhadap kawasan yang sulit dijangkau melalui patroli darat. Hasil pemantauan dari udara dapat menjadi informasi awal bagi tim untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan secara langsung.
Patroli tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran bagi siswa SMKN 13 Bungo. Para pelajar dilibatkan secara langsung agar memiliki pengalaman dalam memahami kondisi hutan, mengenali potensi ancaman Karhutla, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Kaum Perempuan Lestari Hutan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan perempuan memperlihatkan bahwa upaya perlindungan hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola kawasan atau aparat, tetapi merupakan gerakan bersama masyarakat yang hidup di sekitar hutan.
Setelah patroli perdana dilaksanakan pada 31 Agustus 2026, kegiatan pengawasan akan dilanjutkan dengan sistem piket bergiliran. Sistem ini dirancang agar kawasan hutan tetap mendapatkan pengawasan secara berkesinambungan selama periode musim kemarau.
Bagi masyarakat Dusun Baru Pelepat, menjaga hutan merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pencegahan Karhutla dipandang jauh lebih penting dibandingkan harus menunggu api muncul dan kemudian melakukan penanganan setelah kebakaran meluas.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya menggabungkan kekuatan masyarakat, dunia pendidikan, kelompok perempuan dan teknologi dalam membangun sistem pencegahan Karhutla berbasis masyarakat.
Di tengah ancaman kabut asap dan meningkatnya kewaspadaan terhadap Karhutla di wilayah Jambi, patroli yang dilakukan LPHA Datuk Rangkayo Mulio bersama siswa SMKN 13 Bungo dan Perempuan Lestari Hutan menjadi bentuk nyata bahwa perlindungan hutan dapat dimulai dari masyarakat yang berada langsung di sekitar kawasan.
Dengan patroli swadaya dan sistem piket bergiliran, masyarakat Dusun Baru Pelepat berupaya menjaga hutan sebelum api muncul. Bagi mereka, hutan yang tetap terjaga bukan sekadar kawasan yang bebas dari kebakaran, tetapi merupakan warisan yang harus dipertahankan untuk generasi berikutnya.




