
NUSAREPORT-Jambi, Di tengah anggapan bahwa pertanian kurang diminati generasi muda, data terbaru justru menunjukkan arah sebaliknya. Badan Pusat Statistik (BPS) Rilis BRS 2 Maret 2026, mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada Februari 2026 sebesar 176,42 atau naik 1,77 persen dibandingkan Januari 2026. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian sedang berada dalam fase penguatan daya beli.
Secara konsep, NTP menggambarkan perbandingan antara harga yang diterima petani dari hasil produksinya dengan harga yang mereka bayarkan untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi. Pada Februari 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 2,15 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat 0,38 persen. Selisih ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan beban pengeluaran mereka.
Kenaikan NTP terjadi di beberapa subsektor utama. Hortikultura mencatat lonjakan tertinggi sebesar 12,01 persen. Subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 1,72 persen. Peternakan meningkat 1,12 persen. Sementara subsektor perikanan bertambah 0,33 persen. Pola ini menunjukkan penguatan yang relatif merata di sektor pertanian Jambi.
Secara tahunan, NTP Februari 2026 tercatat lebih tinggi 1,15 persen dibandingkan Februari 2025. Perubahan tertinggi terjadi pada subsektor peternakan dengan kenaikan sebesar 5,10 persen secara year-on-year. Artinya, dalam kurun satu tahun, usaha peternakan menjadi salah satu motor penguatan nilai tukar petani di daerah ini.
Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Februari 2026 sebesar 182,43 atau naik 1,89 persen dibandingkan bulan sebelumnya. NTUP mengukur kemampuan usaha pertanian dalam menutup biaya produksi dan penambahan barang modal. Ketika NTUP lebih tinggi dari NTP, hal ini menandakan bahwa dari sisi usaha, pertanian memiliki margin ekonomi yang relatif sehat.
Dengan capaian 176,42, jauh di atas angka 100 sebagai titik keseimbangan, petani Jambi secara agregat berada pada posisi surplus. Daya beli relatif terjaga dan kemampuan ekonomi rumah tangga pertanian mengalami penguatan.
Momentum ini penting dibaca dalam konteks regenerasi. Data BPS menunjukkan bahwa pertanian bukan sekadar sektor bertahan hidup, melainkan sektor yang memiliki ruang ekonomi nyata. Kenaikan 12,01 persen pada hortikultura mengindikasikan tingginya respons pasar terhadap komoditas segar. Pertumbuhan tahunan 5,10 persen pada peternakan memperlihatkan potensi usaha yang stabil dan berkelanjutan.
Bagi generasi muda, angka-angka ini memberi pesan berbeda dari stigma lama. Pertanian modern kini terhubung dengan inovasi teknologi, efisiensi produksi, pengolahan bernilai tambah, hingga pemasaran berbasis digital. Ketika Indeks Harga yang Diterima Petani naik 2,15 persen dan biaya hanya meningkat 0,38 persen, terdapat ruang produktivitas yang dapat dioptimalkan dengan pendekatan manajemen dan teknologi yang lebih maju.
Meski demikian, stabilitas tetap harus dijaga. Fluktuasi harga komoditas, distribusi input produksi, serta faktor musiman bisa memengaruhi tren ke depan. Pengendalian kenaikan Ib menjadi faktor kunci agar penguatan NTP tidak tergerus biaya produksi yang meningkat tajam.
Februari 2026 menghadirkan satu pesan penting: ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan harga yang dibayar, kesejahteraan bergerak naik. Tantangan berikutnya adalah memastikan tren ini berkelanjutan, sekaligus menjadikannya pintu masuk bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor masa depan yang rasional, produktif, dan berdaya saing.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”