NUSAREPORT- Jakarta, Kamis (23/4/2026) ,- Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan signifikan dan ditutup di kisaran Rp17.286 per dolar AS pada perdagangan hari ini, melemah sekitar 0,6 persen dibanding penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi, rupiah bergerak di zona negatif sejak pembukaan dan sempat menyentuh level terendah harian di kisaran Rp17.300 per dolar AS.

Pelemahan ini menempatkan rupiah di antara mata uang dengan tekanan terdalam di kawasan Asia, di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.

Tekanan di pasar valas turut merembet ke pasar surat utang negara. Imbal hasil obligasi pemerintah tercatat meningkat di berbagai tenor, mencerminkan naiknya persepsi risiko investor. Kenaikan yield terutama terlihat pada tenor pendek hingga menengah, seiring aksi jual investor di pasar sekunder.

Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari pelaku pasar dan terminal Bloomberg hingga pertengahan hari, tenor 1 tahun berada di kisaran 5,7 persen, sementara tenor 5 tahun mendekati 6,5 persen, dengan tren kenaikan yang relatif merata.

Analis pasar uang Ibrahim Assuabi menilai tekanan terhadap rupiah masih didorong oleh faktor eksternal, terutama eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga energi global. Kondisi ini memperkuat kecenderungan investor global untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Senada, Kepala Ekonom BCA David Sumual menyebut pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik yang bersifat musiman. “Permintaan dolar meningkat seiring periode pembayaran dividen korporasi, sehingga kebutuhan valas di dalam negeri ikut naik,” ujarnya di Jakarta.Kamis 23/4/2026

Sementara itu, Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto melihat pergerakan rupiah turut mencerminkan pendekatan kebijakan Bank Indonesia yang lebih terukur dalam melakukan intervensi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan cadangan devisa di tengah tekanan eksternal yang berlanjut.

Berdasarkan rilis resmi Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, turun dari posisi Februari sebesar 151,9 miliar dolar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari dinamika global yang juga dialami mata uang negara berkembang lainnya. Bank sentral, kata dia, akan terus memperkuat bauran kebijakan, termasuk intervensi di pasar valas dan penguatan instrumen keuangan domestik untuk menjaga stabilitas.

Dengan kombinasi tekanan global, meningkatnya kebutuhan dolar domestik, serta penyesuaian kebijakan yang lebih berhati-hati, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan berada dalam tekanan, menunggu meredanya ketidakpastian global dan stabilisasi pasar keuangan internasional. ( Sumber : Brief Update- Alc , Ekonomi 23.4.2026, diolah )

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *