
NUSAREPORT-Jakarta, Pasar keuangan domestik diguncang tekanan hebat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat global. Nilai tukar rupiah kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini,Rabu 4/3
Rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke posisi Rp16.880 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp16.930 sebelum tekanan sedikit mereda menjelang penutupan pasar.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar valuta asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terperosok tajam 5,57 persen ke level 7.497 pada pukul 14.20 WIB. Sepanjang hari, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.897 dan terendah 7.486, mencerminkan volatilitas tinggi di tengah aksi jual investor.
Pasar obligasi negara turut terdampak. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) hampir seluruh tenor mengalami kenaikan. Yield tenor 1 tahun naik 1,7 basis poin menjadi 5,22 persen, tenor 5 tahun naik 4,1 basis poin ke 5,94 persen, dan tenor 10 tahun meningkat 2,8 basis poin ke 6,56 persen pada pukul 10.00 WIB. Kenaikan yield mencerminkan turunnya harga obligasi akibat tekanan jual.
Sentimen eksternal menjadi pemicu utama gejolak. Selain lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, tekanan juga datang dari penurunan outlook rating utang Indonesia oleh Fitch Ratings. Revisi prospek ini menambah kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai peluang rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat masih terbuka. Namun, arah pergerakan sangat bergantung pada respons kebijakan moneter.
Menurutnya, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang melakukan intervensi agresif untuk meredam volatilitas. Meski demikian, BI juga perlu berhati-hati menjaga kecukupan cadangan devisa karena tekanan eksternal diperkirakan tidak bersifat sementara.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memastikan bank sentral tetap aktif berada di pasar. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Secara month to date (mtd), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, yang disebut relatif lebih baik dibanding sejumlah mata uang kawasan. BI juga melaporkan cadangan devisa Indonesia per Januari tetap terjaga di level 154,6 miliar dolar AS. Sementara arus masuk modal asing sepanjang 2026 tercatat sebesar Rp25,7 triliun.
Secara fundamental, indikator eksternal Indonesia masih berada dalam batas aman. Namun, kombinasi tekanan geopolitik, fluktuasi harga energi, dan sentimen lembaga pemeringkat global menjadi ujian serius bagi stabilitas pasar keuangan nasional dalam jangka pendek.
Pemerintah dan otoritas moneter kini berpacu menjaga kepercayaan pasar agar volatilitas tidak berkembang menjadi tekanan sistemik terhadap perekonomian domestik. ( Sumber Alliance diolah )
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”