NUSAREPORT-Jakarta,  Di tengah perhatian publik yang masih tertuju pada fluktuasi harga BBM, lonjakan harga plastik justru mulai dibaca sebagai sinyal tekanan ekonomi yang lebih serius dan berpotensi memicu gelombang inflasi yang meluas.

Kenaikan harga bahan baku ini bukan sekadar isu industri. Pengamat ekonomi dan pasar modal Ferry Latuhihin menilai lonjakan harga plastik merupakan indikator awal tekanan ekonomi yang lebih berbahaya karena dampaknya menjalar ke hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Menurut Ferry, publik sering kali terlalu fokus pada kenaikan BBM, padahal tekanan yang lebih “diam-diam mematikan” justru datang dari bahan baku industri non-subsidi seperti plastik.

“BBM mungkin masih bisa ditahan lewat subsidi, tetapi industri tidak. Ketika harga bahan baku naik, kenaikannya pasti diteruskan ke harga barang,” ujarnya dalam perbincangan podcast bersama ekonom Awalil Rizky.

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Plastik merupakan produk turunan minyak bumi dan gas alam yang menjadi komponen penting dalam rantai produksi nasional, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, kebutuhan rumah tangga, hingga sektor logistik.Artinya, ketika harga plastik melonjak, dampaknya tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga langsung menyentuh harga barang yang dibeli masyarakat setiap hari.

Di sejumlah wilayah, harga bahan baku plastik dilaporkan melonjak tajam, bahkan mendekati dua kali lipat untuk beberapa jenis kemasan dan kebutuhan industri. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama gangguan pasokan dari kawasan yang selama ini menjadi sumber utama bahan baku petrokimia global.

Gangguan distribusi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz turut memperparah situasi, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu pusat pasokan energi dan bahan baku industri dunia. Pemerintah mengakui tekanan tersebut.Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kenaikan harga plastik di dalam negeri tidak lepas dari terganggunya impor nafta dari Timur Tengah, yang menjadi salah satu bahan baku utama industri plastik nasional.

“Beberapa hari ini memang banyak keluhan masyarakat soal harga plastik naik. Ini bagian dari dampak perang. Salah satu bahan baku plastik adalah nafta, dan nafta itu kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi kepada awak media.baru baru ini.

Untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri, pemerintah kini bergerak mencari sumber alternatif dari sejumlah negara. Mendag menuturkan upaya diversifikasi impor telah dilakukan ke Afrika, India, dan Amerika Serikat. Namun, perpindahan sumber pasokan dari Timur Tengah ke negara lain membutuhkan waktu agar kondisi harga dapat kembali normal.

“Kita sekarang mencari alternatif pengganti dari negara lain. Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi industri dan jaringan perwakilan Indonesia di luar negeri.Menurut Budi, komunikasi intensif telah dilakukan dengan perusahaan-perusahaan di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand guna memastikan rantai pasok tetap berjalan.

“Untuk bahan baku terus kita lakukan supaya produksi di dalam negeri normal lagi,” pungkasnya.

Meski demikian, Ferry mengingatkan persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai gangguan pasokan jangka pendek semata.Kenaikan harga plastik merupakan alarm awal inflasi yang merambat dari sektor energi ke sektor riil. Sebab, hampir seluruh produk konsumsi masyarakat memiliki keterkaitan langsung dengan plastik, baik sebagai kemasan, bahan distribusi, maupun bagian dari proses produksi.

Dampak paling cepat saat ini mulai dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), terutama sektor makanan, minuman, dan produk kemasan.

Kenaikan harga plastik 30 hingga 50 persen di tingkat pasar mulai menekan margin keuntungan mereka. Banyak pelaku usaha kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang melemah, atau menanggung penyusutan keuntungan.

Keduanya sama-sama berisiko, jika harga dinaikkan, konsumen berpotensi mengurangi belanja. Namun jika harga ditahan, daya tahan usaha menjadi taruhan. Dalam konteks yang lebih luas, lonjakan harga plastik menjadi semacam early warning system bahwa tekanan ekonomi sudah mulai menjalar ke seluruh lini produksi nasional.

Jika harga minyak adalah sumber tekanan, maka kenaikan plastik adalah gejala yang mulai terlihat di permukaan, tanda bahwa inflasi sedang merayap masuk ke meja makan rumah tangga. Dan ketika komponen sekecil plastik ikut melonjak drastis, itu berarti tekanan ekonomi sudah tidak lagi bisa dianggap sepele.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *