NUSAREPORT-Bungo, Pemerintah Kabupaten Bungo kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui kegiatan tanam padi sawah seluas 33 hektare yang dipimpin langsung oleh Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn. di lokasi OPLAH Non Rawa, Kelompok Tani Makmur, Desa Sari Mulya, Kecamatan Jujuhan Ilir, Minggu (5/4/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol dukungan terhadap peningkatan produksi pertanian, tetapi juga menandai langkah nyata pemerintah daerah dalam membangun sistem pangan yang lebih kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dedy Putra menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian tidak boleh berhenti pada perluasan tanam dan peningkatan hasil produksi semata. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian harus diukur secara lebih utuh, yakni sejauh mana hasil panen petani dapat terserap dengan baik, memiliki tempat penampungan yang memadai, dan memberi kepastian nilai ekonomi bagi para petani setelah masa panen tiba.

Karena itu, Pemkab Bungo menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pembangunan gudang Bulog baru di daerah tersebut. Langkah ini dinilai strategis sebagai bagian dari upaya memperkuat dukungan pascapanen, terutama untuk menampung hasil produksi petani yang terus didorong meningkat melalui program optimalisasi lahan pertanian.

Keberadaan gudang Bulog memiliki arti penting, bukan hanya sebagai fasilitas penyimpanan, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga gabah dan beras di tingkat petani. Selama ini, salah satu persoalan yang kerap dihadapi petani adalah lemahnya penyerapan hasil panen ketika produksi melimpah, yang pada akhirnya berdampak pada fluktuasi harga dan menurunnya nilai jual hasil pertanian.

“Pemerintah daerah akan memfasilitasi pembangunan gudang Bulog yang baru agar lebih berdaya guna dalam menampung hasil panen petani. Ini penting supaya produksi yang meningkat juga diikuti dengan kesiapan penyimpanan dan penyerapan hasil,” ujar Bupati Dedy Putra.

Pernyataan tersebut disambut positif oleh kelompok tani dan masyarakat setempat. Bagi petani, dukungan terhadap sektor pertanian tidak cukup diwujudkan hanya dalam bentuk kegiatan tanam serentak atau perluasan areal sawah, tetapi juga harus dibarengi dengan jaminan bahwa hasil panen mereka memiliki akses pasar yang jelas dan sistem penampungan yang mampu melindungi nilai produksi.

Dengan luas tanam mencapai 33 hektare, kegiatan di Desa Sari Mulya menjadi bagian penting dari program optimalisasi lahan untuk mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional. Namun lebih dari itu, keterhubungan antara peningkatan produksi dan kesiapan infrastruktur pascapanen menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Bungo tengah membangun kebijakan pertanian yang lebih menyeluruh, dari hulu hingga hilir.

Jika rencana fasilitasi gudang Bulog baru ini terealisasi, manfaatnya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh petani di Kecamatan Jujuhan Ilir, tetapi juga dapat menopang stabilitas pasokan beras serta memperkuat pertumbuhan ekonomi desa di wilayah Kabupaten Bungo secara lebih luas. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan memproduksi, tetapi juga sebagai kemampuan menjaga alur distribusi, penyerapan, dan keberlanjutan hasil pertanian.

Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, langkah yang menghubungkan produksi dengan dukungan pascapanen merupakan bentuk kebijakan yang lebih substantif. Ketahanan pangan pada akhirnya bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan harus diwujudkan dalam sistem yang nyata, terukur, dan berpihak pada kesejahteraan petani sebagai fondasi utama penyedia pangan daerah.

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *