NUSAREPORT-Jakarta, Pasar keuangan Eropa kembali terpukul setelah memanasnya konflik yang melibatkan Iran memicu lonjakan harga energi dan memperbesar kekhawatiran atas inflasi baru di kawasan itu. Tekanan tidak hanya terlihat di lantai bursa, tetapi juga mulai merambat ke prospek pertumbuhan ekonomi zona euro yang kembali dibayangi biaya energi tinggi, gangguan rantai pasok, dan kemungkinan suku bunga yang tetap ketat lebih lama.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 7 April 2026 waktu setempat, indeks acuan STOXX 600 turun 1,01 persen ke level 590,59 setelah sempat menguat di awal sesi. Sejak konflik pecah sebulan lalu, indeks tersebut telah terkoreksi lebih dari 5 persen. Tekanan juga terjadi di bursa-bursa utama Eropa. DAX Jerman melemah 1,06 persen ke 22.921,59, FTSE 100 Inggris turun 0,84 persen ke 10.348,79, sementara CAC 40 Prancis terkoreksi 0,67 persen ke 7.908,74.

Pelemahan itu mencerminkan kegelisahan investor terhadap dampak lanjutan perang di Timur Tengah. Ketegangan kawasan telah mendorong harga minyak menembus 110 dolar AS per barel, menciptakan gejolak baru di sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi, suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik. Bursa Eropa yang sebelumnya mencoba bertahan dari perlambatan ekonomi kini kembali menghadapi tekanan berlapis.

Sektor kedirgantaraan dan pertahanan tercatat menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,4 persen. Saham Leonardo dari Italia anjlok 8 persen di tengah isu pergantian CEO, sedangkan Rolls-Royce dan Rheinmetall masing-masing turun 3,9 persen dan 2,5 persen. Di sektor teknologi, saham ASML merosot 4,1 persen setelah muncul usulan pengetatan ekspor chip dari Amerika Serikat ke China. Sementara itu, sektor kesehatan melemah 2,1 persen, dipicu penurunan saham AstraZeneca 2,3 persen dan Novo Nordisk 0,8 persen.

Guncangan pasar ini datang pada saat yang sensitif bagi zona euro. Data Maret menunjukkan aktivitas sektor swasta turun tajam untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, terutama akibat gangguan pasokan dan membengkaknya biaya energi. Situasi ini memperburuk kekhawatiran bahwa Eropa akan kembali menghadapi kombinasi yang sulit: pertumbuhan ekonomi melambat, sementara tekanan harga justru menguat.

Peringatan pun mulai datang dari kalangan otoritas moneter. Pejabat Bank Sentral Eropa, Dimitar Radev, mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga agresif tetap mungkin dilakukan bila tekanan inflasi terus memburuk. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar tiga kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak lagi dilihat hanya sebagai risiko eksternal, melainkan sudah mulai masuk ke perhitungan arah kebijakan moneter Eropa.

Dampak konflik itu juga tidak berhenti di Eropa. Dalam gambaran yang lebih luas, perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi memicu krisis energi global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Reuters menilai kerentanan masing-masing negara berbeda-beda, tergantung pada struktur energi, kapasitas fiskal, dan daya tahan ekonominya.

Di kelompok negara maju, Jerman dinilai menghadapi tekanan besar karena ekonominya sangat bergantung pada sektor industri yang menyerap energi dalam skala besar. Italia juga berada dalam posisi rentan karena tingginya ketergantungan pada minyak dan gas. Inggris menghadapi risiko tersendiri karena sistem kelistrikannya sangat bergantung pada gas, sehingga lonjakan harga energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan memperpanjang tekanan suku bunga. Jepang pun masuk dalam daftar negara yang sensitif karena hampir seluruh impor minyaknya berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar melewati Selat Hormuz, jalur penting yang kini terancam konflik.

Di luar negara maju, tekanannya bisa lebih berat. India menjadi salah satu ekonomi besar yang paling terpapar karena mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya, dengan sebagian besar pasokan melewati wilayah konflik. Dampaknya mulai terasa lewat pemangkasan proyeksi pertumbuhan, pelemahan nilai tukar rupee, dan meningkatnya tekanan energi di tingkat rumah tangga maupun usaha kecil. Turki juga menghadapi tekanan ganda, baik karena kedekatan geografis dengan Iran maupun karena rapuhnya stabilitas ekonominya, yang memaksa bank sentral menahan pelonggaran kebijakan dan menguras cadangan devisa untuk menjaga mata uang.

Negara-negara dengan fondasi ekonomi yang lebih rapuh menghadapi ancaman yang lebih besar lagi. Sri Lanka, misalnya, sampai menambah hari libur untuk menghemat energi dan membatasi konsumsi bahan bakar. Pakistan mengambil langkah darurat dengan menaikkan harga bensin dan memangkas penggunaan energi di sektor publik. Mesir juga menghadapi tekanan berlapis karena bukan hanya dibebani kenaikan harga energi dan pangan, tetapi juga berisiko kehilangan pemasukan dari Terusan Suez dan sektor pariwisata, di tengah beban utang luar negeri yang makin berat akibat pelemahan mata uang.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya menghancurkan wilayah yang menjadi medan tempur, tetapi juga dapat mengguncang kestabilan ekonomi global melalui jalur energi, inflasi, dan pasar keuangan. Ketika harga energi melonjak, dampaknya menjalar jauh melampaui kawasan konflik: dari bursa saham di Eropa, ke ruang rapat bank sentral, hingga ke dapur rumah tangga di negara-negara yang paling rentan. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, ketahanan ekonomi bukan lagi sekadar soal kekuatan domestik, melainkan juga kemampuan menghadapi guncangan yang datang dari luar batas negara.( Sumber dikutip dari Reuter,NBC,BBC diolah)

NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *