PROBOLINGGO, NUSAREPORT.COM – Studium Generale Pascasarjana Universitas Nurul Jadid bertema sinergi pemerintah daerah dan pesantren dalam penguatan pendidikan tinggi untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing global, Sabtu (16/5/2026), menghadirkan berbagai gagasan strategis tentang masa depan pendidikan berbasis pesantren.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut menghadirkan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A., sebagai narasumber utama, dengan dukungan penuh Rektor Universitas Nurul Jadid, KH. Dr. Najiburrohman, dalam memperkuat visi pendidikan tinggi berbasis pesantren yang adaptif terhadap tantangan global.

Di sela waktu rehat kegiatan, sebuah perbincangan intelektual yang menarik muncul antara Prof. Dr. Hj. Hamdanah, M.Hum., yang hadir mendampingi Prof. Abd. Halim Soebahar, dengan Dr. Mona Novita, M.Pd., akademisi Universitas Nurul Jadid yang menekuni bidang Manajemen Pendidikan Islam dan Entrepreneurial Leadership.

Percakapan hangat tersebut mengangkat satu gagasan strategis: bagaimana pesantren dapat memainkan peran lebih luas, bukan hanya sebagai pusat pendidikan moral dan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan generasi muda yang mandiri, inovatif, resilien, dan berdaya saing global.

Menurut Prof. Hamdanah, pendidikan masa kini tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter yang kuat.

“Generasi muda kita membutuhkan daya juang, kreativitas, keberanian membaca peluang, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi perubahan. Itu semua tidak cukup dibentuk hanya melalui pembelajaran formal,” ungkapnya.

Menurutnya, pesantren justru memiliki modal sosial dan kultural yang sangat kuat dalam membangun karakter tersebut.

“Di pesantren itu ada disiplin, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, solidaritas sosial, dan etos kerja. Kalau dikembangkan secara sistematis, ini menjadi fondasi pendidikan kewirausahaan yang sangat kuat,” jelasnya.

Dr. Mona Novita menilai pandangan tersebut sangat relevan dengan tantangan pendidikan Indonesia saat ini.

“Dalam perspektif entrepreneurial leadership, pendidikan tidak lagi cukup menyiapkan job seeker, tetapi harus membentuk opportunity creator—generasi yang mampu membaca tantangan sebagai peluang, menciptakan solusi, dan memberi dampak,” ujarnya.

Diskusi tersebut kemudian berkembang pada gagasan Entrepreneurial Character Education in Pesantren, yakni model pendidikan karakter kewirausahaan berbasis pesantren yang menghubungkan nilai-nilai Islam, pemberdayaan generasi muda, dan agenda pembangunan berkelanjutan global atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Prof. Hamdanah menegaskan bahwa entrepreneurship dalam perspektif pendidikan Islam tidak sekadar soal aktivitas ekonomi.

“Ini tentang mentalitas kreatif, keberanian mengambil inisiatif, kemampuan menyelesaikan masalah, dan komitmen menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Islam justru sangat kaya dengan nilai-nilai itu,” katanya.

Keduanya menilai model ini memiliki keterkaitan kuat dengan target SDGs, terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions).

Perbincangan informal yang lahir di ruang rehat akademik tersebut menunjukkan bahwa ide-ide besar tentang masa depan pendidikan kadang justru tumbuh dari dialog-dialog hangat di lingkungan pesantren.

Jika dikembangkan secara visioner, pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi nilai keagamaan, tetapi juga dapat tampil sebagai inkubator kepemimpinan dan kewirausahaan berbasis nilai bagi generasi masa depan. (as)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *