
NUSAREPORT – Jakarta, Jumat 12 Juni 2026,- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan akan memberikan tekanan baru terhadap daya beli masyarakat kelas menengah. Di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan hidup dan momentum tahun ajaran baru, kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong rumah tangga untuk menunda sejumlah pengeluaran nonprimer.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rahma Gafmi, menilai kelompok masyarakat yang selama ini menjadi pengguna utama Pertamax akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM tersebut. Menurutnya, alokasi pengeluaran rumah tangga untuk transportasi akan meningkat sehingga ruang untuk konsumsi kebutuhan lain menjadi semakin terbatas.
“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial. Rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, maupun barang elektronik,” kata Prof. Rahma Gafmi , dikutip sumber di Jakarta, Jumat.12/6/2026
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap BBM bersifat relatif inelastis dalam jangka pendek. Masyarakat tetap harus bekerja, menjalankan usaha, mengantar anak ke sekolah, dan melakukan berbagai aktivitas harian meskipun harga bahan bakar mengalami kenaikan. Akibatnya, pengeluaran yang lebih mudah ditunda akan menjadi pilihan pertama untuk dikurangi.
Menurut Prof. Rahma Gafmi, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan yang lebih besar kepada kelompok kelas menengah karena mereka tidak memperoleh bantalan fiskal sebagaimana kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin yang mendapatkan bantuan sosial maupun bantuan langsung tunai dari pemerintah.
“Kelompok menengah harus menyerap sepenuhnya kenaikan biaya hidup secara mandiri di tengah pertumbuhan pendapatan atau gaji yang cenderung stagnan,” ujarnya.
Tekanan terhadap daya beli tersebut muncul pada saat yang kurang ideal. Memasuki tahun ajaran baru, banyak keluarga sedang menghadapi peningkatan kebutuhan pendidikan, mulai dari biaya sekolah, seragam, buku, hingga perlengkapan belajar lainnya. Dalam situasi seperti itu, kenaikan pengeluaran untuk transportasi dapat semakin mempersempit kemampuan rumah tangga untuk melakukan konsumsi di luar kebutuhan pokok.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga. Kenaikan harga Pertamax juga berpotensi meningkatkan biaya operasional sejumlah sektor usaha yang mengandalkan kendaraan berbahan bakar bensin nonsubsidi. Sektor jasa kurir, pengemudi ojek daring, tenaga pemasaran lapangan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi kelompok yang berpotensi merasakan kenaikan biaya operasional secara langsung.
Prof. Rahma Gafmi mencontohkan banyak pelaku UMKM masih menggunakan kendaraan pribadi untuk berbelanja bahan baku maupun mendistribusikan produk kepada konsumen. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan ke harga jual, maka konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga barang dan jasa di tingkat ritel.
Kondisi itu dapat memicu tekanan terhadap inflasi inti sekaligus mengurangi daya beli riil masyarakat. Namun demikian, ia menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional secara keseluruhan masih relatif terbatas karena sektor logistik utama dan distribusi barang kebutuhan pokok sebagian besar masih menggunakan solar.
“Meskipun persentase kenaikannya masif yaitu naik sekitar 32 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, efek dominonya terhadap inflasi umum tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik. Walaupun ada kira-kira cuma 0,1 persen saja,” katanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year). Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi terbesar terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).
Karena itu, setiap tekanan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, menjadi perhatian penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Selama ini, kelompok tersebut merupakan penggerak utama sektor perdagangan, jasa, pariwisata, hiburan, kuliner, hingga industri barang konsumsi.
Prof. Rahma Gafmi memperkirakan tekanan inflasi pada Juni 2026 masih perlu diwaspadai. Menurutnya, dinamika sektor transportasi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan inflasi dibandingkan bulan sebelumnya.
“Proyeksi inflasi pada Juni 2026 ini berada dalam tekanan yang cukup kuat. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu trigger utama yang berpotensi mendorong inflasi umum (CPI) merangkak naik hingga mendekati atau bahkan menembus kisaran 4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari posisi Mei yang berada di level 3,08 persen (yoy),” ujarnya.
Meski demikian, para ekonom menilai fundamental konsumsi domestik Indonesia masih cukup kuat. Namun apabila tekanan biaya hidup terus meningkat tanpa diikuti pertumbuhan pendapatan yang memadai, kecenderungan masyarakat untuk menahan belanja dapat semakin meluas dan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2026.
Bagi banyak keluarga kelas menengah, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan biaya mengisi tangki kendaraan. Di balik itu, terdapat konsekuensi yang lebih luas terhadap pola konsumsi rumah tangga, kemampuan menabung, hingga keputusan untuk menunda berbagai kebutuhan yang sebelumnya dianggap wajar dan terjangkau.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”