Masyarakat Bungo Paling Rajin Berobat, Angka Kesakitannya Masih Tinggi..

Kesehatan14 Views

NUSAREPORT – Muara Bungo,  Ketika merasa tubuh mulai tidak sehat, masyarakat Kabupaten Bungo tampaknya tidak memilih menunggu penyakit bertambah parah. Mereka datang ke puskesmas, klinik, praktik dokter, atau bidan untuk memeriksakan diri. Kesadaran mencari pengobatan inilah yang membuat Bungo mencatatkan satu capaian yang cukup membanggakan: menjadi kabupaten dengan persentase penduduk yang paling banyak memanfaatkan layanan rawat jalan di Provinsi Jambi.

Di balik capaian tersebut, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa masyarakat yang relatif cepat mencari pengobatan justru masih memiliki angka kesakitan di atas rata-rata Provinsi Jambi?

Data kesehatan tahun 2025 memberikan gambaran yang menarik sekaligus menjadi bahan refleksi bagi pembangunan kesehatan di Kabupaten Bungo.

Sebanyak 43,93 persen penduduk Bungo yang mengalami keluhan kesehatan memilih menjalani rawat jalan di fasilitas pelayanan kesehatan. Persentase itu merupakan yang tertinggi di Provinsi Jambi dan berada jauh di atas rata-rata provinsi yang mencapai 32,70 persen.

Angka tersebut setidaknya menunjukkan satu hal penting: masyarakat Bungo tidak lagi menganggap remeh persoalan kesehatan. Ketika mengalami keluhan, mereka cenderung memanfaatkan layanan kesehatan dibanding membiarkan penyakit berkembang tanpa penanganan.

Kesadaran seperti ini merupakan modal yang sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Semakin cepat seseorang memperoleh pelayanan medis, semakin besar peluang penyakit dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Namun, tingginya pemanfaatan layanan kesehatan ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh membaiknya kondisi kesehatan masyarakat.

Persentase penduduk yang mengalami sakit hingga aktivitas hariannya terganggu masih mencapai 14,17 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Jambi yang sebesar 10,61 persen.

Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan pelayanan kesehatan di Bungo buruk. Sebaliknya, angka itu justru mengingatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya berbicara mengenai pengobatan, tetapi juga bagaimana mencegah masyarakat jatuh sakit sejak awal.

Berbagai faktor dapat memengaruhi tingginya angka kesakitan, mulai dari pola hidup, kondisi lingkungan, beban penyakit tidak menular, hingga karakteristik sosial ekonomi masyarakat. Karena itu, tingginya angka kesakitan perlu dibaca secara utuh bersama indikator kesehatan lainnya.

Menariknya, ketika memilih tempat berobat, sebagian besar masyarakat Bungo lebih mempercayakan pelayanan kepada praktik dokter atau bidan. Persentasenya mencapai 63,45 persen. Sementara yang memanfaatkan puskesmas dan pustu sebesar 15,54 persen, sedangkan rumah sakit pemerintah hanya 6,36 persen.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tingkat pertama masih menjadi tumpuan utama masyarakat. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya memperkuat layanan primer sebagai garda terdepan sistem kesehatan daerah.

Masih terdapat pekerjaan rumah lain yang tidak kalah penting, yakni pemanfaatan jaminan kesehatan. Saat menjalani pengobatan, hanya 33,80 persen masyarakat Bungo yang menggunakan jaminan kesehatan. Angka ini masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jambi yang mencapai 44,57 persen.

Kurangnya  pemanfaatan jaminan kesehatan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari status kepesertaan, tingkat pemahaman masyarakat terhadap manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), hingga pilihan masyarakat untuk membiayai pengobatan secara mandiri. Data ini menjadi sinyal bahwa perluasan cakupan dan optimalisasi pemanfaatan jaminan kesehatan masih menjadi agenda yang perlu diperkuat.

Di sisi lain, tantangan kesehatan masyarakat juga berkaitan dengan perilaku hidup sehat. Sebanyak 32,27 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Bungo masih memiliki kebiasaan merokok. Persentase tersebut berada di atas rata-rata Provinsi Jambi yang sebesar 30,29 persen.

Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit paru kronis, hingga kanker. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan apabila tidak diimbangi dengan upaya promotif dan preventif.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bungo, deretan angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan. Data itu dapat menjadi cermin untuk mengevaluasi arah pembangunan kesehatan daerah.

Kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan sudah berada pada jalur yang positif. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah tingginya angka kunjungan berobat menjadi penurunan angka kesakitan melalui penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan kualitas pelayanan, perluasan pemanfaatan JKN, edukasi kesehatan, serta pembudayaan pola hidup sehat..

Sumber : Analisis Statistik Kesehatan dan Perumahan Provinsi Jambi 2025

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *