NUSAREPORT,Jakarta — Persaingan partai politik menuju Pemilu 2029 mulai memperlihatkan konstelasi awal. Survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) menempatkan Partai Gerindra di posisi teratas dengan elektabilitas 17,3 persen, hanya terpaut 0,5 poin dari PDI Perjuangan (PDIP) yang memperoleh 16,8 persen.
Hasil survei tersebut menunjukkan persaingan kedua partai masih berdekatan. Di bawah Gerindra dan PDIP, Partai NasDem mencatat elektabilitas 7,3 persen, disusul PKB 6,2 persen dan Golkar 6,1 persen. Berikutnya PKS memperoleh 5,5 persen, PAN dan PSI masing-masing 4,3 persen, serta Partai Demokrat 4,1 persen. Gabungan partai lainnya tercatat 5,6 persen.
Satu hal yang menarik, sebanyak 22,5 persen responden belum memberikan jawaban mengenai pilihan partai politik. Besarnya kelompok ini memperlihatkan bahwa preferensi pemilih masih belum sepenuhnya terbentuk menjelang kontestasi 2029.
“Sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban,” kata Peneliti LKPI Irwan Ardiansyah, dikutip Jumat (2/10/2026).
LKPI juga mengukur popularitas sejumlah tokoh politik yang berpotensi masuk dalam bursa kepemimpinan nasional pada 2029. Presiden Prabowo Subianto mencatat popularitas 94,7 persen, disusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 91,2 persen.
Nama lain yang memiliki tingkat popularitas tinggi adalah Anies Baswedan 90,01 persen, Dedi Mulyadi 89,4 persen, Pramono Anung 88,3 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 87,56 persen, Puan Maharani 87,51 persen, Muhaimin Iskandar 84,14 persen, Bahlil Lahadalia 76,48 persen, Zulkifli Hasan 59,74 persen, dan Surya Paloh 53,94 persen. Sementara kelompok lainnya tercatat 18,11 persen.
Namun, tingkat popularitas tidak serta-merta menggambarkan pilihan pemilih. Dalam pengukuran elektabilitas tokoh potensial sebagai pemimpin nasional 2029, Prabowo Subianto memperoleh 35,5 persen, disusul Pramono Anung 10,4 persen, Gibran Rakabuming Raka 9,2 persen, dan Anies Baswedan 8,7 persen.
Selanjutnya Puan Maharani memperoleh 6,5 persen, AHY 5,6 persen, Dedi Mulyadi 3,8 persen, Bahlil Lahadalia 3,3 persen, dan Muhaimin Iskandar 2,6 persen. Tokoh lainnya tercatat 1,69 persen, sedangkan 12,71 persen responden tidak memberikan jawaban.
Peneliti LKPI Irwan Ardiansyah menegaskan bahwa popularitas dan elektabilitas merupakan dua ukuran berbeda. Popularitas menggambarkan tingkat pengenalan masyarakat terhadap seorang tokoh, sedangkan elektabilitas menunjukkan kecenderungan pilihan responden ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai calon pemimpin.
Ia juga menekankan bahwa hasil survei tersebut merupakan potret preferensi responden saat pengumpulan data berlangsung, yakni 8–20 September 2026, bukan prediksi hasil Pemilu 2029.
Survei LKPI melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi dengan metode multistage random sampling. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin of error kurang lebih 3,1 persen.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan telepon seluler. Wawancara melalui telepon memiliki tingkat kontak 35,6 persen dengan tingkat respons 33,1 persen. Sementara wawancara tatap muka mencapai 64,4 persen dengan tingkat respons 58,3 persen.
Dengan selisih elektabilitas Gerindra dan PDIP sebesar 0,5 poin, persaingan kedua partai masih berada dalam jarak yang berdekatan. Terlebih, angka tersebut lebih kecil daripada margin of error survei. Karena itu, hasil ini perlu dibaca sebagai gambaran awal dinamika politik, bukan sebagai penetapan posisi pasti kedua partai menjelang Pemilu 2029.








