Dialog Petruk dan Gareng: Sebenarnya Kita Ini Sedang Melangkah ke Mana..

 “Reng, aku mau tanya. Sebenarnya kita ini sedang melangkah ke mana..?”

Gareng yang sedang duduk santai menoleh. “Lho, memangnya kita mau pergi ke mana, Truk Dari tadi juga duduk di sini.”

“Bukan gitu, maksudku, keadaan yang sedang kita jalani ini. Setiap hari ada saja kegaduhan politik. Satu persoalan belum selesai, muncul lagi persoalan baru. Orang ramai berdebat, saling membantah, saling membela. Kadang aku bertanya-tanya, setelah semua keramaian itu, apa yang benar-benar berubah ”

Gareng tersenyum. “Kalau soal keramaian, kita memang tidak pernah kekurangan bahan. Yang kadang kurang justru kabar tentang masalah mana yang sudah selesai.”

Petruk tertawa kecil. “Nah, itu dia. Coba lihat keadaan di sekitar kita. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah. Kemarau berlangsung panjang. Harga kebutuhan sehari-hari pun terus menjadi beban. Orang kecil harus berhitung sebelum berbelanja. Tetapi, perhatian kita sering habis untuk mengikuti polemik politik yang entah kapan berakhir.”

“Jangan-jangan karena berdebat lebih mudah daripada bekerja,” sahut Gareng. “Kalau berdebat, hari ini bisa langsung ramai. Kalau bekerja, hasilnya belum tentu terlihat besok pagi.”

“Jadi, kita lebih suka menonton pertunjukan daripada memeriksa hasil pekerjaan?”

“Jangan salah paham, Truk. Politik itu penting. Kalau ada pejabat keliru, harus dikritik. Kalau kebijakan merugikan masyarakat, harus dipersoalkan. Tetapi, jangan sampai kita begitu sibuk membicarakan siapa yang menang dalam perdebatan sampai lupa bertanya siapa yang sedang menyelesaikan masalah.”

Petruk mengangguk. “Aku tidak keberatan orang berdebat. Yang membuatku gelisah, mengapa persoalan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat sering kalah ramai? Kita bisa berhari-hari membicarakan ucapan seorang tokoh, tetapi belum tentu tahu bagaimana penanganan kebakaran, apa persiapan menghadapi kemarau, atau mengapa harga kebutuhan terus menekan rumah tangga.”

Gareng membetulkan posisi duduknya. “Mungkin karena persoalan politik punya tokoh yang bisa dipuja atau disalahkan. Sementara masalah rakyat sering tidak sesederhana itu. Perlu data, perlu kerja, perlu pengawasan. Tidak cukup hanya mencari siapa yang bisa dijadikan sasaran kemarahan.”

“Kalau begitu, jangan-jangan kegaduhan politik ini memang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian masyarakat”

Gareng tidak langsung menjawab. Ia menggaruk kepalanya, kebiasaannya setiap kali menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana.

“Bisa saja orang mencurigai kemungkinan itu. Dalam politik, kita mengenal istilah cipta kondisi dan cipta opini. Ada pihak yang mungkin berusaha membentuk keadaan atau memengaruhi cara masyarakat melihat suatu persoalan. Tetapi, apakah setiap kegaduhan pasti dirancang? Itu perkara lain. Kita perlu bukti sebelum menyimpulkan.”

“Jadi, kita tidak boleh curiga?”

“Boleh bertanya, boleh menyelidiki, tetapi jangan asal menuduh. Periksa bagaimana sebuah isu muncul, siapa yang menyebarkannya, apakah ada pola koordinasi yang bisa dibuktikan, dan siapa yang diuntungkan. Jangan sampai kita berniat membongkar permainan orang lain, tetapi malah ikut bermain dengan prasangka sendiri.”

Petruk tersenyum. “Ucapanmu benar juga. Kita jangan sampai sibuk menebak siapa yang bermain, sementara persoalan di depan mata dibiarkan.”

“Lha, itu yang sering terlupakan,” kata Gareng. “Kalau asap mengganggu warga, tanyakan bagaimana pencegahan dan penanganannya. Kalau kemarau mengancam petani dan persediaan air, tanyakan apa langkah antisipasinya. Kalau harga kebutuhan naik, tanyakan apa penyebabnya dan apa yang dilakukan untuk mengatasinya. Bukankah itu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat?”

Petruk memandang ke arah jalan. Seorang pedagang melintas menawarkan dagangannya. Barangkali ia sedang berharap dagangan hari itu cukup untuk menutup biaya belanja dan kebutuhan keluarga.

“Coba pikirkan orang seperti itu, Reng. Ia harus bekerja setiap hari. Kalau harga barang naik, ia ikut menanggung akibatnya. Kalau dagangan sepi, penghasilannya berkurang. Ia tidak bisa menghentikan hidupnya hanya untuk mengikuti semua kegaduhan politik.”

“Betul. Bagi orang yang sedang menghitung uang belanja, perdebatan para tokoh tidak otomatis membuat harga lebih murah. Mereka perlu pekerjaan, penghasilan, dan keadaan yang memungkinkan hidup berjalan dengan layak.”

“Lalu, apa yang seharusnya dilakukan mereka yang memegang kekuasaan?”

“Bekerja sesuai tanggung jawabnya, lalu menjelaskan hasilnya. Bukan berarti semua pekerjaan harus dipamerkan. Tetapi, masyarakat berhak mengetahui apa yang sudah dilakukan, apa yang belum selesai, dan mengapa. Kalau kebijakan berhasil, tunjukkan hasilnya. Kalau gagal, jelaskan penyebabnya dan apa yang akan diperbaiki.”

“Berarti ukuran seorang pemimpin bukan seberapa sering namanya muncul dalam berita?”

“Bukan pula seberapa ramai pendukungnya membela,” jawab Gareng. “Lihat saja apakah masalah ditangani, apakah uang rakyat digunakan dengan bertanggung jawab, dan apakah manfaatnya benar-benar dirasakan. Kalau yang ramai hanya pernyataannya, sedangkan persoalannya tetap begitu-begitu saja, rakyat tentu berhak bertanya.”

Petruk terkekeh. “Kalau begitu, kita perlu lebih rajin bertanya daripada bertepuk tangan.”

“Bertanya itu perlu. Tetapi, jangan hanya pandai bertanya kepada orang yang tidak kita sukai. Kepada tokoh yang kita dukung pun harus berani bertanya. Jangan sampai kesalahan orang lain kita persoalkan, sementara kesalahan kawan sendiri kita maklumi.”

Petruk terdiam. Sindiran itu terasa dekat dengan kebiasaan banyak orang yang lebih mudah membenarkan kelompoknya sendiri daripada memeriksa persoalan secara jernih.

“Reng, mungkin masalah kita bukan sekadar terlalu banyak kegaduhan. Kita juga semakin mudah terseret olehnya. Ada isu baru, kita ikut ramai. Ada pernyataan kontroversial, kita ikut marah. Kita merasa sudah berbuat sesuatu karena ikut berkomentar, padahal belum tentu memahami persoalannya.”

Gareng tertawa pendek. “Kadang-kadang kita merasa ikut mengendalikan keadaan, padahal hanya ikut meramaikan percakapan.”

“Lalu, bagaimana supaya kita tidak terus terseret?”

“Jangan berhenti berpikir hanya karena semua orang sedang ramai berbicara. Periksa informasi sebelum menyebarkannya. Bedakan fakta dengan dugaan. Dan jangan lupa menanyakan hal yang paling sederhana: setelah semua ini diperdebatkan, apa yang menjadi lebih baik bagi masyarakat?”

Petruk mengangguk pelan. “Pertanyaan itu sepertinya lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa yang terakhir membalas pernyataan lawannya.”

“Ya. Politik seharusnya membantu menyelesaikan persoalan bersama. Kalau justru membuat kita lupa pada persoalan yang harus diselesaikan, berarti ada sesuatu yang perlu dibenahi. Bukan hanya oleh para pemegang kekuasaan, tetapi juga oleh kita yang menyaksikan dan menanggapinya.”

Sore mulai beranjak. Percakapan mereka belum menghasilkan jawaban pasti. Namun, Petruk masih menyimpan satu pertanyaan.

“Reng, kalau melihat semua ini, apakah kita sedang menuju kehidupan yang lebih baik?”

Gareng tidak segera menjawab. Ia memandang jalan yang mulai lengang, lalu berkata, “Jawabannya jangan dicari dari seberapa ramai orang berbicara tentang kemajuan. Lihat saja keadaan masyarakat. Apakah hidup mereka semakin layak? Apakah masalah yang mereka hadapi ditangani? Apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan bersama? Dari situlah kita bisa menilai.”

Petruk menarik napas panjang. “Kalau begitu, kita memang perlu berhenti sebentar untuk melihat arah perjalanan ini.”

“Boleh berhenti untuk berpikir, Truk. Tapi, jangan berhenti menagih tanggung jawab.”

Keduanya tertawa kecil. Kali ini, bukan karena ada lelucon yang benar-benar lucu, melainkan karena mereka sadar betapa sederhana pertanyaannya dan betapa sulit memastikan jawabannya.

Di luar sana, kehidupan terus berjalan. Ada warga yang masih menghadapi dampak asap, petani yang mencemaskan kemarau, dan keluarga yang harus mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Mereka tidak bisa menunggu sampai seluruh polemik politik selesai.*Budi Prasetiyo -NUSAREPORT.Com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *