
NUSAREPORT-Jambi, Rabu 6 Mei 2026,- Tekanan harga di Provinsi Jambi pada April 2026 masih dalam kondisi terkendali, di tengah sinyal menguatnya daya beli petani. Kombinasi ini menunjukkan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga, meski belum merata di semua sektor.
Inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 2,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,07. Angka ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,84 persen, menandakan adanya peningkatan tekanan harga, namun masih dalam batas moderat.
Tekanan inflasi tidak terjadi merata. Muara Bungo mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,14 persen, sementara Kota Jambi menjadi yang terendah dengan 1,73 persen. Perbedaan ini mencerminkan dinamika harga yang berbeda antarwilayah.
Dari sisi pengeluaran, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 7,68 persen. Disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,53 persen serta transportasi sebesar 2,75 persen. Di sisi lain, beberapa kelompok justru mengalami penurunan harga, seperti pakaian dan alas kaki yang turun 3,18 persen serta perlengkapan rumah tangga sebesar 0,86 persen.
Secara bulanan, inflasi April tercatat 0,27 persen, sementara sejak awal tahun mencapai 0,52 persen. Laju ini menunjukkan kenaikan harga masih terkendali dan belum menunjukkan tekanan berlebihan.
Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi, di antaranya daging ayam ras, beras, angkutan udara, dan emas perhiasan. Sementara itu, penurunan harga pada komoditas seperti cabai merah dan bawang merah turut menahan laju inflasi.
Di tengah dinamika tersebut, kondisi petani justru menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 tercatat sebesar 178,39 atau naik 1,11 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan daya beli petani, di mana harga yang mereka terima naik lebih cepat dibanding pengeluaran yang harus dibayar.
Penguatan ini terutama ditopang oleh subsektor perikanan yang tumbuh 2,24 persen, peternakan 1,80 persen, serta perkebunan rakyat 1,51 persen. Namun demikian, tidak semua sektor mengalami perbaikan. Subsektor hortikultura justru mengalami penurunan cukup dalam sebesar 4,86 persen, diikuti tanaman pangan yang turun 0,77 persen.
Dari sisi usaha, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat menjadi 184,26 atau naik 1,01 persen. Hal ini menunjukkan usaha pertanian secara umum semakin mampu menutup biaya produksi dan mempertahankan keberlanjutan usaha.
Secara keseluruhan, kondisi ini menggambarkan keseimbangan antara tekanan harga dan daya beli yang masih terjaga di Provinsi Jambi. Namun, ketimpangan antar subsektor menjadi catatan penting, terutama bagi sektor hortikultura dan tanaman pangan yang masih mengalami tekanan.
Ke depan, stabilitas harga pangan serta penguatan sektor pertanian yang rentan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap inklusif dan berkelanjutan.
*Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, BRS Rilis 5 Mei 2026.
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta”