NUSAREPORT- Bungo-Jambi, Minggu 17 Mei 2026,- Di Kabupaten Bungo, persoalan pendidikan hari ini mungkin tidak lagi sekadar soal berapa banyak anak yang berhasil masuk sekolah. Persoalan yang jauh lebih besar justru mulai terlihat ketika sekolah perlahan kehilangan makna sebagai ruang pembentukan nalar, keterampilan hidup, dan kesiapan menghadapi masa depan.

Secara statistik, pendidikan di daerah tampak bergerak cukup baik. Tingkat melek aksara generasi muda usia 15–24 tahun pada tahun 2025 telah mencapai 99,26 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD bahkan berada di angka 106,97 persen. Negara terlihat berhasil memperluas akses pendidikan dasar hingga menjangkau hampir seluruh anak.

Namun di balik keberhasilan angka-angka itu, tersembunyi ironi yang mulai sulit diabaikan.

Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK Kabupaten Bungo hanya berada di angka 55,78 persen. Artinya, hampir separuh anak usia sekolah menengah atas tidak lagi berada di bangku pendidikan sesuai jenjang usianya. Sebagian berhenti sekolah lebih cepat karena tekanan ekonomi, sebagian memilih bekerja, dan sebagian lain mulai kehilangan keyakinan bahwa sekolah benar-benar mampu mengubah masa depan mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan daerah tidak lagi semata tentang akses, tetapi tentang relevansi pendidikan terhadap kehidupan nyata masyarakat.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan memperlihatkan bahwa ekonomi masyarakat Kabupaten Bungo masih sangat ditopang sektor informal dan usaha mandiri. Dari 168.517 tenaga kerja yang tercatat pada tahun 2025, sebagian besar bekerja sebagai buruh, pekerja informal, usaha keluarga kecil, hingga pekerja keluarga tanpa upah tetap.

Ini menunjukkan satu persoalan mendasar: pendidikan dan dunia kerja berjalan tanpa jembatan yang kuat.

Sekolah menghasilkan lulusan, tetapi dunia kerja membutuhkan kemampuan yang sering kali tidak benar-benar diajarkan di ruang kelas. Pendidikan sibuk mengejar nilai, angka kelulusan, dan formalitas administratif, sementara dunia usaha dan dunia industri bergerak cepat menuntut kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, literasi digital, serta kemampuan membaca perubahan.

Akibatnya, muncul ironi modern yang perlahan menjadi krisis senyap di banyak daerah:
ijazah terus bertambah, tetapi kepastian masa depan justru semakin rapuh.

Dalam tulisan kolom “Pendidikan Nalar Socrates”, akademisi Universitas Islam Sultan Agung, Dr. Yudhi Hertanto, menjelaskan bagaimana pendidikan modern perlahan berubah menjadi “pabrik ijazah”. Sekolah terlalu sibuk mengejar simbol keberhasilan administratif, tetapi sering lupa membangun kemampuan bernalar dan keberanian berpikir.

Gelar akademik akhirnya lebih diperlakukan sebagai simbol status dibanding alat menghadapi realitas kehidupan.

Padahal sejak ribuan tahun lalu, Socrates telah mengajarkan bahwa inti pendidikan bukanlah menyuapi jawaban, melainkan membantu manusia menemukan kebenaran melalui pertanyaan dan dialog kritis.

Tetapi dalam praktik pendidikan modern hari ini, siswa lebih sering diposisikan sebagai penghafal informasi dibanding pencari makna. Mereka dilatih menjawab soal, tetapi tidak cukup dibiasakan memahami persoalan nyata. Mereka dibentuk untuk mengejar nilai, tetapi tidak selalu dipersiapkan membaca perubahan zaman.

Akibatnya, lahirlah generasi yang memiliki ijazah, tetapi sering gagap menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

Fenomena itu mulai terlihat dalam realitas sosial-ekonomi Kabupaten Bungo.

Banyak generasi muda bekerja keras, tetapi sebagian besar masih bertahan dalam sektor ekonomi informal dengan produktivitas terbatas. Sebagian memasuki dunia kerja terlalu cepat tanpa keterampilan yang memadai. Bahkan ketika pendidikan berhasil menghasilkan lulusan, belum tentu pendidikan itu benar-benar melahirkan manusia yang siap menghadapi perubahan ekonomi modern.

Padahal dunia usaha dan dunia industri saat ini tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang “bisa bekerja”. Dunia kerja modern membutuhkan manusia yang mampu berpikir.

Mereka membutuhkan tenaga kerja yang mampu membaca situasi, berpikir analitis, beradaptasi terhadap teknologi, memahami literasi digital, berkomunikasi dengan baik, dan mampu memecahkan persoalan secara kreatif. Kompetensi seperti ini tidak lahir dari budaya hafalan semata, tetapi dari pendidikan yang membangun nalar.

Di titik inilah persoalan pendidikan kita menjadi semakin serius.

Krisis terbesar hari ini sesungguhnya bukan hanya rendahnya angka pendidikan menengah, melainkan melemahnya kualitas cara berpikir di tengah perubahan dunia kerja yang semakin kompleks.

Ketika seorang anak berhenti sekolah setelah SMP, daerah memang kehilangan potensi tenaga kerja terdidik. Tetapi ketika sekolah hanya menghasilkan lulusan yang terbiasa menghafal tanpa kemampuan berpikir kritis, daerah sesungguhnya kehilangan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: generasi inovator masa depan.

Inilah ancaman yang sering tidak terlihat dalam statistik pendidikan.

Kabupaten Bungo mungkin masih memiliki jumlah tenaga kerja yang besar. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) bahkan mencapai 69,97 persen. Namun pertanyaan penting hari ini bukan lagi sekadar “berapa banyak orang bekerja?”, melainkan:
apakah tenaga kerja kita benar-benar siap menghadapi masa depan?

Sebab ekonomi masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah manusia yang bekerja, tetapi oleh kualitas cara berpikir manusia yang menggerakkan ekonomi itu sendiri.

Jika pendidikan terus berorientasi pada ijazah sementara dunia kerja bergerak menuju kreativitas, inovasi, dan adaptasi teknologi, maka kesenjangan itu akan semakin melebar. Dunia usaha akan kesulitan mendapatkan tenaga kerja terampil, sementara generasi muda semakin sulit menemukan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

Daerah hari ini mungkin tidak kekurangan sekolah, tetapi mulai kekurangan ruang yang mampu melahirkan manusia pembelajar.

Kita sedang menghasilkan generasi yang mahir mengisi lembar jawaban, tetapi sering tidak siap membaca perubahan zaman.

Karena itu, pembangunan pendidikan daerah tidak bisa lagi berhenti pada perluasan akses sekolah semata. Pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan nalar, etika, keterampilan hidup, kreativitas, dan keberanian berpikir kritis.

Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Sekolah harus mampu melahirkan manusia yang mampu memahami perubahan dunia dan menciptakan masa depannya sendiri.

Mungkin itulah pertanyaan terbesar pendidikan kita hari ini:
ketika ijazah tidak lagi menjamin masa depan, lalu sebenarnya untuk apa kita sekolah ? *( Budi Prasetyo)

NUSAREPORT Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *