NUSAREPORT- Jakarta, Sabtu 16 Mei 2026,- Pembahasan pengembangan logam tanah jarang atau rare earth element (REE) di Mamuju, Sulawesi Barat, mulai memunculkan pembacaan baru terhadap arah kebijakan strategis Indonesia. Pertemuan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra, bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan sejumlah pemangku kepentingan lain dinilai bukan sekadar rapat koordinasi sektor tambang biasa. Keterlibatan unsur pertahanan dan intelijen menunjukkan bahwa negara mulai memandang mineral strategis sebagai bagian dari kepentingan keamanan nasional sekaligus instrumen geopolitik masa depan.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah tersebut mencerminkan perubahan paradigma negara dalam melihat sumber daya alam strategis. Menurutnya, rare earth kini bukan hanya berkaitan dengan industri pertambangan, tetapi sudah menjadi bagian dari kompetisi global yang menyangkut teknologi, pertahanan, kendaraan listrik, hingga penguasaan rantai pasok industri modern dunia.

“Rare earth hari ini bukan sekadar urusan tambang. Ini menyangkut perang teknologi, semikonduktor, kendaraan listrik, industri pertahanan, sampai perebutan pengaruh antarnegara besar,” kata Amir, Sabtu, 16 Mei 2026.

Rare earth sendiri merupakan kelompok 17 unsur logam yang menjadi komponen penting dalam berbagai teknologi modern. Mineral ini digunakan dalam produksi magnet kendaraan listrik, turbin angin, radar militer, sistem persenjataan, telepon pintar, hingga perangkat semikonduktor. Dalam beberapa tahun terakhir, perebutan akses terhadap mineral kritis semakin intensif seiring meningkatnya kebutuhan industri transisi energi dan teknologi tinggi dunia.

Laporan Reuters pada awal 2026 menyebut pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi sedikitnya delapan blok potensial rare earth yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, dan Bangka Belitung. Sejumlah kawasan bahkan disebut mengandung tungsten, tantalum, dan antimon yang memiliki nilai strategis tinggi bagi industri pertahanan dan teknologi modern.

Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China dalam perebutan rantai pasok mineral kritis global, posisi Indonesia mulai dipandang semakin penting. Selama ini China masih mendominasi produksi dan pengolahan rare earth dunia. Namun ketegangan geopolitik membuat banyak negara Barat mulai mencari sumber pasokan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Beijing. Dalam situasi itu, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisi tawar geopolitiknya melalui penguasaan mineral strategis.

Amir menilai keterlibatan sektor pertahanan dalam pembahasan pengembangan rare earth menunjukkan bahwa ancaman masa depan tidak lagi hanya dipahami dalam konteks perang konvensional. Negara, menurutnya, mulai melihat energi, pangan, data digital, dan mineral strategis sebagai bagian dari pertahanan nasional.

“Negara yang menguasai mineral masa depan akan memiliki daya tawar geopolitik yang sangat besar,” ujarnya.

Mamuju sendiri dinilai berpotensi menjadi kawasan strategis baru apabila pengembangan rare earth dilakukan dalam skala besar. Karena itu, pengamanan kawasan tambang dipandang penting untuk mengantisipasi konflik kepentingan, penyelundupan sumber daya, hingga potensi infiltrasi ekonomi asing.

Meski demikian, pengembangan rare earth juga memunculkan tantangan besar yang perlu diantisipasi pemerintah. Pengelolaan mineral kritis kerap memunculkan persoalan lingkungan, ketimpangan ekonomi, serta dominasi investasi asing jika tidak disertai tata kelola yang kuat. Pengalaman industrialisasi nikel di sejumlah wilayah Indonesia menjadi contoh bagaimana hilirisasi dapat memicu pertumbuhan ekonomi sekaligus memunculkan kritik terkait kerusakan lingkungan dan distribusi manfaat ekonomi daerah.

Sejumlah kajian akademik internasional juga mulai menyoroti dampak ekologis industrialisasi mineral di Sulawesi yang dinilai memerlukan pengawasan ketat dan kebijakan keberlanjutan jangka panjang.

Amir mengingatkan Indonesia tidak boleh kembali terjebak menjadi pemasok bahan mentah bagi industri negara lain. Menurutnya, kekuatan geopolitik tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral, tetapi juga kemampuan negara menguasai teknologi pengolahan, riset, dan rantai nilai industri di dalam negeri.

“Indonesia jangan hanya menjadi eksportir bahan mentah. Hilirisasi harus berjalan dan penguasaan teknologi harus dibangun secara bertahap,” katanya.

Pemerintah sendiri mulai mendorong agenda hilirisasi mineral sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional jangka panjang. Jika dikelola secara hati-hati, transparan, dan berkelanjutan, rare earth Mamuju tidak hanya berpotensi menjadi sumber ekonomi baru, tetapi juga dapat menjadi instrumen strategis Indonesia dalam membangun pengaruh di tengah perubahan peta kekuatan global.

Di tengah perang teknologi dan perebutan sumber daya masa depan, Indonesia tampaknya mulai menyadari bahwa kekuatan negara modern tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan senjata, tetapi juga oleh siapa yang mampu menguasai mineral strategis dunia.

NUSAREPORT Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *