
NUSAREPORT- 23/5/2026,- Di era media sosial hari ini, manusia hidup di tengah ledakan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban. Setiap detik, jutaan video, opini, komentar, berita, dan potongan narasi berlomba memenuhi layar telepon genggam manusia modern. Dunia terasa semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin gaduh.
Ironisnya, semakin banyak informasi tersedia, semakin terlihat bahwa manusia justru semakin mudah diprovokasi, cepat bereaksi, dan sulit membedakan mana fakta dan mana emosi.
Masyarakat modern hidup dalam dunia yang membuat orang bereaksi sebelum berpikir. Di tengah situasi seperti ini, pemikiran Aristoteles yang lahir lebih dari dua ribu tahun lalu justru terasa sangat relevan.
Filsuf Yunani kuno itu pernah menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh tiga unsur utama dalam komunikasi: ethos, logos, dan pathos. Tiga konsep ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjelaskan hampir seluruh dinamika media sosial modern hari ini.
Logos adalah logika. Ia berbicara tentang fakta, data, argumentasi, dan kemampuan manusia menggunakan akal sehat. Logos mendorong manusia untuk bertanya:
“Apakah informasi ini benar?”
“Apakah ada bukti?”
“Apakah argumen ini masuk akal?”
Dalam masyarakat yang sehat, logos seharusnya menjadi fondasi utama diskusi publik. Karena tanpa logika, manusia hanya akan mengikuti perasaan sesaat.
Namun Aristoteles memahami satu hal penting: manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional.
Karena itu ada pathos. Pathos adalah emosi. Ia bekerja melalui rasa marah, takut, bangga, sedih, atau harapan. Emosi dapat menggerakkan manusia lebih cepat dibanding logika. Orang sering kali mengambil keputusan bukan karena fakta yang paling kuat, tetapi karena emosi yang paling menyentuh dirinya.
Aristoteles memahami bahwa emosi memang bagian alami dari manusia. Namun ia juga menyadari bahwa emosi yang tidak dikendalikan oleh logika dapat menjadi alat manipulasi yang sangat berbahaya.
Dan hari ini, dunia digital modern bekerja hampir sepenuhnya dengan kekuatan pathos.
Media sosial tidak dibangun untuk mencari mana yang paling benar, tetapi mana yang paling menarik perhatian. Algoritma digital bekerja berdasarkan keterlibatan pengguna. Konten yang membuat orang marah, takut, atau terkejut biasanya lebih cepat viral dibanding penjelasan yang tenang dan rasional. Akibatnya, kemarahan menjadi komoditas. Provokasi menjadi strategi. Sensasi menjadi alat mencari perhatian.
Kita hidup di era ketika judul bombastis lebih cepat dipercaya dibanding penjelasan panjang. Potongan video beberapa detik lebih kuat memengaruhi opini dibanding analisis mendalam. Orang lebih tertarik pada konflik dibanding pemahaman.
Di titik inilah logos perlahan dikalahkan oleh pathos.
Namun Aristoteles tidak berhenti di sana. Ia juga menjelaskan tentang ethos. Ethos adalah kredibilitas. Ia berkaitan dengan mengapa seseorang dipercaya. Mengapa publik mengikuti seseorang? Mengapa ada tokoh yang mampu memengaruhi jutaan orang meski argumentasinya lemah? Karena manusia sering mempercayai sosok sebelum memeriksa isi pesannya.
Dalam dunia modern, ethos dapat dibangun melalui popularitas, citra, jabatan, jumlah pengikut media sosial, bahkan sekadar kemampuan tampil percaya diri di depan kamera. Seseorang dianggap benar bukan karena data yang ia miliki, tetapi karena ia terlihat meyakinkan.
Fenomena ini sangat terlihat di media sosial hari ini. Banyak orang lebih percaya pada influencer dibanding pakar. Lebih percaya pada potongan video dibanding riset ilmiah. Lebih percaya pada narasi emosional dibanding penjelasan berbasis data.
Ketika ethos dan pathos bergabung tanpa dikendalikan logos, lahirlah masyarakat yang mudah diprovokasi. Dan mungkin inilah masalah terbesar dunia digital hari ini.
Manusia modern perlahan kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, memahami konteks, lalu berpikir secara jernih sebelum bereaksi. Banyak orang merasa dirinya sedang berpikir kritis, padahal sebenarnya hanya sedang memilih emosi yang paling sesuai dengan keyakinannya sendiri.
Akibatnya, ruang publik berubah menjadi arena pertarungan emosi. Perbedaan pendapat dianggap permusuhan. Diskusi berubah menjadi caci maki. Kritik dianggap serangan.
Dan kebenaran sering kali kalah oleh viralitas.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut echo chamber, ruang gema digital tempat seseorang hanya mendengar opini yang ia sukai. Ketika ada pandangan berbeda, ia langsung dianggap ancaman.
Masyarakat akhirnya tidak lagi mencari kebenaran bersama, tetapi sibuk mempertahankan identitas kelompok masing-masing. Padahal peradaban tidak dibangun oleh manusia yang paling keras berbicara, melainkan oleh manusia yang mampu berpikir jernih di tengah kebisingan.
Karena itu, kemampuan paling penting di era digital hari ini bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi kemampuan mendengar. Bukan hanya kemampuan mengkritik, tetapi kemampuan memeriksa diri sendiri. Bukan hanya kemampuan menyebarkan informasi, tetapi kemampuan membedakan mana fakta dan mana manipulasi emosi.
Mungkin itulah sebabnya Aristoteles mengatakan semua itu ribuan tahun lalu. Ia memahami bahwa masyarakat yang kehilangan logika akan mudah dikuasai emosi, dan masyarakat yang dikuasai emosi akan sangat mudah dikendalikan.
Hari ini, ketika dunia semakin dipenuhi propaganda, sensasi, dan kebisingan digital, pemikiran Aristoteles terasa bukan semakin tua, melainkan semakin penting untuk diingat kembali.
Karena sesungguhnya, ancaman terbesar peradaban modern bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir secara rasional di tengah banjir emosi. *(Budi Prasetiyo )
NUSAREPORT “Tanpa Prasangka, Berbasis Data, Berpijak pada Fakta.”